Kalau kamu sedang ada masalah, apa yang kamu lakukan?
Ya, banyak orang mungkin cerita ke orang lain, apakah ke teman, pacar (ehmm), orang tua, saudara, kakak, adik dan sebagainya.
Kalau aku, aku cenderung malu menceritakannya ke orang lain untuk kasus-kasus tertentu. Percaya tidak percaya, aku lebih senang curhat ke Microsoft Word..
Lho? Mentang-mentang anak TI? Haha. Tidak juga.
Ini tampilan Microsoft Word-ku kalau sedang curhat:
Aku percaya bahwa setiap orang itu tidak sendiri, sekalipun ia hanya sendiri. Di dalam dirinya ada 2 jiwa, 1 adalah yang ia rasakan, dan 1 lagi adalah sisi lain yang hidup di dalam dirinya dan selalu memberikan sugesti yang baik. Ia hidup di dalam hati setiap orang.
Sering bukan mendengar frase 'hati kecil'? Aku percaya ia bisa diajak komunikasi.
Interface yang digunakan untuk curhat ini seperti chatting. Seolah-olah aku sedang bicara dengan diriku sendiri, seperti orang gila, selesai aku menceritakan masalahku, aku akan dengarkan baik-baik kata-kata yang timbul sendiri dari hatiku, lalu menuliskannya di situ.
Percaya tidak percaya, terkadang ada teguran dari dalam diri sendiri, cemoohan, pujian, tanggapan menarik yang semuanya terekam. Karena dokumennya kusimpan di komputer.
Saat ada gambar yang bisa mendukung, aku bisa letakkan di situ. Interaktif, dan sangat membantu. Karena, saat seseorang curhat dengan metode biasa, ia tidak merekamnya. Solusinya tidak terekam detail. Kalau seperti ini tentu lebih membantu.
Ini juga saran, kalau curhat, mendingan lewat chatting dengan seseorang tempat curhatmu. Karena solusinya bisa dibaca.
Tapi, mendengarkan dirimu sendiri, menurutku adalah yang terbaik, walau mungkin tidak selalu.
Ya, hanya sekedar berbagi cerita di siang satu hari sebelum Hari Minggu ini.
Terkadang ia menyakitkan untuk dikenang.
Karena ia menyusun kejadian buruk di masa lalu
Namun ia adalah bit-bit berharga,
bit-bit yang menyimpan ingatan, yang mengajarkan sesuatu.
Tapi ia juga menyimpan kenangan manis.
Hanya saja, kenangan manis itu hanya di awal.
Karena waktu menggerogotinya,
menjadi butir-butir sakit kenangan lama.
Lupakanlah, maka hidup menjadi hampa.
Peliharalah, tapi..
dunia ini tidak kekal.
Apa yang kausimpan bisa jadi telah mati...
mati menjadi ingatan sedih.
Tetapi tidak, jangan lupakan!
Karena ia adalah pelajaran,
pelajaran hidup yang mengajarkan
bahwa aliran waktu sangat berarti.
Ia boleh lewat dan telah lalu,
tapi aku terus akan maju,
menjadi diriku yang baru.
Menjadi orang yang idealis adalah sebuah penderitaan tersendiri. Aku sendiri yang nyaris tergolong kesitu merasakan dampaknya secara umum: ingin bekerja sendiri, tidak percaya dengan orang lain, ingin semuanya perfect...
Baguskah yang seperti ini?
Tidak juga.
Menjadi idealis tidak apa-apa, jika seseorang memang mampu menjadi idealis. Masalahnya adalah, ketika ada orang yang menjadi idealis tapi memiliki derajat motivasi yang rendah, ia akan stres sendiri.
Contoh simple saja. Anggap ada sebuah kelompok dengan beberapa anggota yang salah satu anggotanya adalah orang idealis. Setiap anggota kelompok mendapatkan jatah kerja sendiri-sendiri, berbagi tugas. Biasanya sang idealis adalah leader-nya.
Akhirnya, di akhir waktu, sang leader mendapatkan hasil kerja teman-temannya. Tibalah pada proses editing tugas.
Percaya atau tidak, sang idealis biasanya merasa ada banyak yang tidak sesuai dengan pemikirannya dan kemudian mengedit seluruh tugas itu sendirian.
Sulit....
Sedangkan, kalau bekerja perseorangan, ketika mengerjakan suatu project misalnya, biasanya sang idealis akan berpikir keras. Ia ingin menciptakan sesuatu yang sempurna, berbeda, dan menarik.
Tapi, terkadang hal itu tidak tercapai. Ia malah tidak mengerjakan apa-apa.
Jadi, baguskah idealis?
Bagus, hanya saja butuh motivasi ekstra untuk menjaga agar ide selalu cemerlang dan tidak malas. Itu resiko, orang yang idealis banyak perannya. Tapi, pada peranan yang salah, ia pula yang merusak segalanya.
Ya, brainstorming di pagi hari yang cerah ini.
Baguskah yang seperti ini?
Tidak juga.
Menjadi idealis tidak apa-apa, jika seseorang memang mampu menjadi idealis. Masalahnya adalah, ketika ada orang yang menjadi idealis tapi memiliki derajat motivasi yang rendah, ia akan stres sendiri.
Contoh simple saja. Anggap ada sebuah kelompok dengan beberapa anggota yang salah satu anggotanya adalah orang idealis. Setiap anggota kelompok mendapatkan jatah kerja sendiri-sendiri, berbagi tugas. Biasanya sang idealis adalah leader-nya.
Akhirnya, di akhir waktu, sang leader mendapatkan hasil kerja teman-temannya. Tibalah pada proses editing tugas.
Percaya atau tidak, sang idealis biasanya merasa ada banyak yang tidak sesuai dengan pemikirannya dan kemudian mengedit seluruh tugas itu sendirian.
Sulit....
Sedangkan, kalau bekerja perseorangan, ketika mengerjakan suatu project misalnya, biasanya sang idealis akan berpikir keras. Ia ingin menciptakan sesuatu yang sempurna, berbeda, dan menarik.
Tapi, terkadang hal itu tidak tercapai. Ia malah tidak mengerjakan apa-apa.
Jadi, baguskah idealis?
Bagus, hanya saja butuh motivasi ekstra untuk menjaga agar ide selalu cemerlang dan tidak malas. Itu resiko, orang yang idealis banyak perannya. Tapi, pada peranan yang salah, ia pula yang merusak segalanya.
Ya, brainstorming di pagi hari yang cerah ini.
Mungkin ini waktunya belajar untuk berani pergi-pergi. Huff, sebenarnya aku adalah orang yang takut bepergian. Entah kenapa premis ini udah ada di mind-set ku: berangkat itu mudah, tapi pulangnya, belum tentu.
Dan kemarin adalah pengalaman yang cukup menarik.
Beberapa hari yang lalu, laptopku rusak. Harddisk-nya kayaknya tergores. Itu rasanya mau mati bener sumpah deh. Sekarang bayangkan, karya-karya, tugas-tugas, program komputer, semuanya ada di laptopku. Mungkin ada sekitar 180 GB data terancam hilang.
Berkat bantuan dari flashdisk-ku yang dimodifikasi, Alhamdulillah, datanya bisa diselamatkan, walaupun hanya sepertiganya.
Karena kejadian itu, aku berencana untuk membeli harddisk eksternal, untuk mam-backup data.
Nah, alkisah, di Jakarta Convention Center Senayan, sedang diadakan Mega Bazaar Computer, dari tanggal 9 - 13 Maret. Harga barang-barang yang related dengan komputer harganya sedang turun.
Nggak tahu kenapa ya, rencana untuk pergi ke situ sudah muncul bahkan sejak pertengahan Februari, tapi tidak pernah ada waktu (dan teman. Aku nggak tahu lokasi JCC itu di mana).
Hingga tadi malam, akhirnya aku dapat teman untuk ke sana.Tapi waktunya mepet sekali. Tadi malam, tanggal 12 Maret (berarti 1 hari sebelum hari akhir pameran), setelah latihan Paramadina Choir pukul 18.00 kemarin sore, salah satu kakak angkatanku Kak Syir, berencana untuk ke sana. Dia berencana bertemu dengan temannya di situ.
Bukankah ini kesempatan bagus? Aku dapat teman. Tapi...
Saat itu aku bingung, waktu sudah menunjukkan jam 19.00. Berangkat nggak ya, berangkat nggak ya, itu terus yang jadi masalah. Mungkin ada 20 menitan untuk memutuskan bahwa aku jadi ikut. Ya, dalam kondisi seperti ini, kemampuan filsafatku keluar. Teman-temanku bilang, aku ini kebanyakan mikir. Ya, sekedar ngambil keputusan untuk ikut saja setengah mati, hahaha.
Konflik batinku waktu itu, ya, aku berangkat ke sana ada temannya. Tapi, pulangnya? Naik apa? Berhenti di mana? Aku nggak tahu. Ini Jakarta, bukan kota asalku Bengkulu. Tersesat di Bengkulu dengan bekal jalan kaki aja cukup, tapi di Jakarta. Oh, no.
Tapi, kalau aku tidak berangkat malam ini, aku nggak bakalan dapat kesempatan besoknya (hari ini). Karena jadwalku cukup padat. Hari Senin ada kuis, aku harus belajar. Oh, tidak, berangkat nggak ya...
Akhirnya, keputusannya adalah: berangkat. Setelah lewat diskusi alot dengan Kak Syir di depan kampusku (Universitas Paramadina) di iringi dengan burung merpati tak bertuan yang mendarat di tengah jalan. Eh, tunggu, ini cerita lain.
Burung merpati itu aneh, mendarat di tengah jalan Gatot Subroto yang ramai. Alhasil, ada sedikit kemacetan di situ. Mana tega orang ngelindes burung yang tak berdosa. Anehnya, burungnya bandel, dia sudah ditendang oleh salah satu pengendara motor tapi tidak terbang, hahaha.
Jinak-jinak, merpati.
Oke, lanjut ke cerita semula. Akhirnya berangkatlah aku ke JCC sekitar jam 19.30an ditemani beliau.
Naik kopaja 66, topik pembicaraan yang menjadi fokus utama pembicaraan kami waktu itu adalah, "nanti pulangnya aku dari mana kak? ... terus turunnya di mana? ... oh, di simpang kuningan, naik 66? ... yang dekat kampus itu kan kak?" hahaha. Too many question and confirmation. Mungkin pusing Kak Syir waktu itu jawab pertanyaan-pertanyaanku yang relatif tidak penting, hahaha. Ya, sekarang aku bisa ketawa nulis ini, tapi kalau ingat kemarin, aduh. Pokoknya bismillah aja deh berangkat itu.
Akhirnya berhenti di depan GBK. Jalanlah dari situ. Kami tiba di JCC sekitar jam 8an. Waw, tinggal 1 jam. Pukul 9 pameran ditutup.
Ya, kaki sudah agak letih, and there is no chair available. Masuk ke JCC, suasana cukup ramai. Pertama masuk yang kelihatan jajaan-jajaan laptop. Aku cari harddisk eksternal. Oke, dengan feeling, bergeraklah kami ke kanan gedung itu. Ternyata bukan tempat jual aksesoris komputer, tapi tempat jualan aksesoris kamera. Oke salah jalan.
Waktu tinggal 1 jam, dan keperluan yang kucari bahkan posisinya tidak tahu. Nah, samar-samar terlihatlah simbol huruf i di dalam lingkaran. Alhamdulillah, pusat informasi.
Aku bertanya tentang tempat penjualan aksesoris komputer. Kata mbak-mbak di situ, "Oh, mungkin di hall b mas, tapi coba cek di plenary hall dulu, soalnya lebih dekat". Oke, jalanlah kami ke situ. Ternyata plenary hall bukanlah tempat orang jualan harddisk eksternal. Oh Tuhan, keluarlah kami dari hall itu dan sampai di sebuah lorong.
Wah, ini harus ke mana...
Oh, syukurnya di situ ada peta, touch screen. Untunglah, tapi masalah pada peta itu adalah, arah di peta itu tidak jelas. Kami tidak tahu kami sedang menghadap arah mana. Ya, dengan rundingan dan feeling, lalu kami cari jalan yang benar.
Lurus, belok kanan, samar-samar ada tulisan merk harddisk yang aku kenal. Ternyata ya, Alhamdulillah. Oke, harganya sudah tahu, dan aku baru ingat, aku belum mengambil uang, dan tadi di pusat informasi aku tidak tanya di mana posisi ATM.
Wah gimana ini.. bingung sumpah. Udah jauh-jauh, mengorbankan keselamatan diri malam-malam, dan pulang dengan tangan hampa, wah itu bukan rencana. Kak Syir kuminta tinggal di tempat itu, dan aku kembali ke pusat informasi. Berbekal ingatanku tentang peta di koridor tadi, dan sedikit keberuntungan aku berjalan ke sana secepat-cepatnya.
Alhamdulillah, tempat pusat informasi itu ketemu. Setelah agak ngos-ngosan, dan nabrak-nabrak serta menginjak kaki orang, aku tanya ke mbak-mbak disitu, "Di sini ada ATM gak mbak?", jawabnya, "ATM Bersama mas?" tanya mbak itu. Wak, keringat dingin mengucur, aku bilang, "Bukan mbak, ATM BCA", dan mbak itu jawab, "nggak ada mas..."
jelegeerrrr, jelegeerrr. Oh, tidak...
Kembalilah aku, eh di jalan baru terpikir, kenapa aku gak tanya di tempat jual harddisk tadi bisa debit atau tidak? Oh, bodoh, sudah jauh-jauh kenapa tidak aku tanya. Kalau aku tanya dulu bisa pakai debit atau tidak masalah beres sampai di situ.
Kembali ke tempat itu, dan aku tanya dengan deg-degan, "Mas, di sini bisa debit?", jawab mas itu, "Kalo BCA bisa mas." Oh, Alhamdulillah.
Oke, ambil nota, minta barang yang mau ku beli, harddisk eksternal 320 GB, antri di kasir, dan selesai Alhamdulillah. Dapat mug pula, lumayanlah.
Ya, selesai urusanku di situ, tinggal tanggung jawabku lagi. Gantian, aku yang menemani Kak Syir. Dia menunggu temannya. Sambil menunggu kami keluar dari pameran itu, keluar dari gedung JCC, dan masalah selanjutnya muncul.
Di mana ini? Ini bukan pintu masuk tadi.
Astaghfirullah, tiket hanya berlaku satu kali dan kami telah keluar. Masuk lagi dan mencari jalan keluar yang lain bukan hal yang bisa dilakukan. Ya, setelah bertanya ke satpam, kami mengitari gedung itu.
Well, waktu sudah menunjukkan sekitar 20.50, dan kami belum duduk. Setidaknya misiku sudah accomplished, tapi yang Kak Syir belum. Aku nggak enak.
Setelah mengitari gedung itu, masalah lain muncul. Ini bukan jalan yang kami harapkan. Ini di pintu keluar karyawan.
Oh, tidak....
Kaki sudah mau copot (malah nggak bawa obeng untuk ngencengin baut di lutut). Ya sudahlah, Kak Syir tinggal yang harus melakukan konsolidasi dengan temannya. Aku tinggal pulang....
Oh, astaghfirullah.. Pulang lewat mana?
Waktu sebelum sampai ke situ, aku seharusnya naik kopaja 66 untuk pulang ke dekat kampus. Tapi, ini bukan gerbang tadi. Posisinya beda, bagaimana ini? Di luar gerbang itu ada halte busway JCC Senayan.
"Udah, naik busway aja, lebih aman" kata Kak Syir, tapi aku bingung. Aku nggak tahu trayeknya. "Aduh, gampang, nanti arah sana tu udah Gatot Subroto, berhenti di halte Tegal Parang", kata Kak Syir. Ya, asal dekat kampus aku bisa mencari jalan pulang.
Ya, setelah diusir satpam, karena kami duduk di depan pos satpam haha, sinyal untuk cepat-cepat pulang, walaupun aku gak enak, aku merasa tanggung jawabku belum selesai, sedangkan busway hanya sampai pukul 22.00, waktu sudah menunjukkan 21.20, waswas sudah pasti.
Ya, aku gak tahu jalan lain untuk pulang. Terpaksa aku pulang duluan.
Ternyata, JCC dan kampusku itu tidak terlalu jauh, ya ampun. Kalau naik busway tinggal lurus, tanpa transit.
Ya, hikmah pengalamanku tadi malam adalah sering-sering buka Google Maps, coba-cobalah untuk pergi-pergi, tapi tetap hati-hati.
Dan aku sampai di rumah sekitar pukul 22.00 lewat, dengan kaki nyaris copot. Sudah duduk cuma 10 menit sebelum diusir satpam dan di busway tidak dapat tempat duduk. Berarti waktu berdiri mungkin ada 2 jam. Dan dari Halte Busway Tegal Parang ke tempat tinggalku di dekat kampus itu harus ditempuh jalan kaki 15 menit. Lemas sudah pasti.
Oke, bagaimana nasib orang yang menemaniku?
Kak Syir tidak jadi ketemu temannya, dan pulang sendiri akhirnya.
Hadeh, perjalananku yang sebenarnya dekat sekali mengorbankan orang lain. Ini akibatnya kalau kebanyakan mikir, tapi tidak efisien. Seharusnya waktu gerak di JCC lebih cepat kalau aku bisa berpikir sistematis.
Ya, terima kasih banyak buat Kak Syir, ada pelajaran juga yang aku dapat tadi malam.
Jadi, barangkali, persingkat waktu berpikir, berpikir sistematis dan efisien penting untuk menghindari kejadian yang sama. Dan jangan malu bertanya, karena malu bertanya, jalan-jalan deh alias nyasar.
Dan kemarin adalah pengalaman yang cukup menarik.
Beberapa hari yang lalu, laptopku rusak. Harddisk-nya kayaknya tergores. Itu rasanya mau mati bener sumpah deh. Sekarang bayangkan, karya-karya, tugas-tugas, program komputer, semuanya ada di laptopku. Mungkin ada sekitar 180 GB data terancam hilang.
Berkat bantuan dari flashdisk-ku yang dimodifikasi, Alhamdulillah, datanya bisa diselamatkan, walaupun hanya sepertiganya.
Karena kejadian itu, aku berencana untuk membeli harddisk eksternal, untuk mam-backup data.
Nah, alkisah, di Jakarta Convention Center Senayan, sedang diadakan Mega Bazaar Computer, dari tanggal 9 - 13 Maret. Harga barang-barang yang related dengan komputer harganya sedang turun.
Nggak tahu kenapa ya, rencana untuk pergi ke situ sudah muncul bahkan sejak pertengahan Februari, tapi tidak pernah ada waktu (dan teman. Aku nggak tahu lokasi JCC itu di mana).
Hingga tadi malam, akhirnya aku dapat teman untuk ke sana.Tapi waktunya mepet sekali. Tadi malam, tanggal 12 Maret (berarti 1 hari sebelum hari akhir pameran), setelah latihan Paramadina Choir pukul 18.00 kemarin sore, salah satu kakak angkatanku Kak Syir, berencana untuk ke sana. Dia berencana bertemu dengan temannya di situ.
Bukankah ini kesempatan bagus? Aku dapat teman. Tapi...
Saat itu aku bingung, waktu sudah menunjukkan jam 19.00. Berangkat nggak ya, berangkat nggak ya, itu terus yang jadi masalah. Mungkin ada 20 menitan untuk memutuskan bahwa aku jadi ikut. Ya, dalam kondisi seperti ini, kemampuan filsafatku keluar. Teman-temanku bilang, aku ini kebanyakan mikir. Ya, sekedar ngambil keputusan untuk ikut saja setengah mati, hahaha.
Konflik batinku waktu itu, ya, aku berangkat ke sana ada temannya. Tapi, pulangnya? Naik apa? Berhenti di mana? Aku nggak tahu. Ini Jakarta, bukan kota asalku Bengkulu. Tersesat di Bengkulu dengan bekal jalan kaki aja cukup, tapi di Jakarta. Oh, no.
Tapi, kalau aku tidak berangkat malam ini, aku nggak bakalan dapat kesempatan besoknya (hari ini). Karena jadwalku cukup padat. Hari Senin ada kuis, aku harus belajar. Oh, tidak, berangkat nggak ya...
Akhirnya, keputusannya adalah: berangkat. Setelah lewat diskusi alot dengan Kak Syir di depan kampusku (Universitas Paramadina) di iringi dengan burung merpati tak bertuan yang mendarat di tengah jalan. Eh, tunggu, ini cerita lain.
Burung merpati itu aneh, mendarat di tengah jalan Gatot Subroto yang ramai. Alhasil, ada sedikit kemacetan di situ. Mana tega orang ngelindes burung yang tak berdosa. Anehnya, burungnya bandel, dia sudah ditendang oleh salah satu pengendara motor tapi tidak terbang, hahaha.
Jinak-jinak, merpati.
Oke, lanjut ke cerita semula. Akhirnya berangkatlah aku ke JCC sekitar jam 19.30an ditemani beliau.
Naik kopaja 66, topik pembicaraan yang menjadi fokus utama pembicaraan kami waktu itu adalah, "nanti pulangnya aku dari mana kak? ... terus turunnya di mana? ... oh, di simpang kuningan, naik 66? ... yang dekat kampus itu kan kak?" hahaha. Too many question and confirmation. Mungkin pusing Kak Syir waktu itu jawab pertanyaan-pertanyaanku yang relatif tidak penting, hahaha. Ya, sekarang aku bisa ketawa nulis ini, tapi kalau ingat kemarin, aduh. Pokoknya bismillah aja deh berangkat itu.
Akhirnya berhenti di depan GBK. Jalanlah dari situ. Kami tiba di JCC sekitar jam 8an. Waw, tinggal 1 jam. Pukul 9 pameran ditutup.
Ya, kaki sudah agak letih, and there is no chair available. Masuk ke JCC, suasana cukup ramai. Pertama masuk yang kelihatan jajaan-jajaan laptop. Aku cari harddisk eksternal. Oke, dengan feeling, bergeraklah kami ke kanan gedung itu. Ternyata bukan tempat jual aksesoris komputer, tapi tempat jualan aksesoris kamera. Oke salah jalan.
Waktu tinggal 1 jam, dan keperluan yang kucari bahkan posisinya tidak tahu. Nah, samar-samar terlihatlah simbol huruf i di dalam lingkaran. Alhamdulillah, pusat informasi.
Aku bertanya tentang tempat penjualan aksesoris komputer. Kata mbak-mbak di situ, "Oh, mungkin di hall b mas, tapi coba cek di plenary hall dulu, soalnya lebih dekat". Oke, jalanlah kami ke situ. Ternyata plenary hall bukanlah tempat orang jualan harddisk eksternal. Oh Tuhan, keluarlah kami dari hall itu dan sampai di sebuah lorong.
Wah, ini harus ke mana...
Oh, syukurnya di situ ada peta, touch screen. Untunglah, tapi masalah pada peta itu adalah, arah di peta itu tidak jelas. Kami tidak tahu kami sedang menghadap arah mana. Ya, dengan rundingan dan feeling, lalu kami cari jalan yang benar.
Lurus, belok kanan, samar-samar ada tulisan merk harddisk yang aku kenal. Ternyata ya, Alhamdulillah. Oke, harganya sudah tahu, dan aku baru ingat, aku belum mengambil uang, dan tadi di pusat informasi aku tidak tanya di mana posisi ATM.
Wah gimana ini.. bingung sumpah. Udah jauh-jauh, mengorbankan keselamatan diri malam-malam, dan pulang dengan tangan hampa, wah itu bukan rencana. Kak Syir kuminta tinggal di tempat itu, dan aku kembali ke pusat informasi. Berbekal ingatanku tentang peta di koridor tadi, dan sedikit keberuntungan aku berjalan ke sana secepat-cepatnya.
Alhamdulillah, tempat pusat informasi itu ketemu. Setelah agak ngos-ngosan, dan nabrak-nabrak serta menginjak kaki orang, aku tanya ke mbak-mbak disitu, "Di sini ada ATM gak mbak?", jawabnya, "ATM Bersama mas?" tanya mbak itu. Wak, keringat dingin mengucur, aku bilang, "Bukan mbak, ATM BCA", dan mbak itu jawab, "nggak ada mas..."
jelegeerrrr, jelegeerrr. Oh, tidak...
Kembalilah aku, eh di jalan baru terpikir, kenapa aku gak tanya di tempat jual harddisk tadi bisa debit atau tidak? Oh, bodoh, sudah jauh-jauh kenapa tidak aku tanya. Kalau aku tanya dulu bisa pakai debit atau tidak masalah beres sampai di situ.
Kembali ke tempat itu, dan aku tanya dengan deg-degan, "Mas, di sini bisa debit?", jawab mas itu, "Kalo BCA bisa mas." Oh, Alhamdulillah.
Oke, ambil nota, minta barang yang mau ku beli, harddisk eksternal 320 GB, antri di kasir, dan selesai Alhamdulillah. Dapat mug pula, lumayanlah.
Ya, selesai urusanku di situ, tinggal tanggung jawabku lagi. Gantian, aku yang menemani Kak Syir. Dia menunggu temannya. Sambil menunggu kami keluar dari pameran itu, keluar dari gedung JCC, dan masalah selanjutnya muncul.
Di mana ini? Ini bukan pintu masuk tadi.
Astaghfirullah, tiket hanya berlaku satu kali dan kami telah keluar. Masuk lagi dan mencari jalan keluar yang lain bukan hal yang bisa dilakukan. Ya, setelah bertanya ke satpam, kami mengitari gedung itu.
Well, waktu sudah menunjukkan sekitar 20.50, dan kami belum duduk. Setidaknya misiku sudah accomplished, tapi yang Kak Syir belum. Aku nggak enak.
Setelah mengitari gedung itu, masalah lain muncul. Ini bukan jalan yang kami harapkan. Ini di pintu keluar karyawan.
Oh, tidak....
Kaki sudah mau copot (malah nggak bawa obeng untuk ngencengin baut di lutut). Ya sudahlah, Kak Syir tinggal yang harus melakukan konsolidasi dengan temannya. Aku tinggal pulang....
Oh, astaghfirullah.. Pulang lewat mana?
Waktu sebelum sampai ke situ, aku seharusnya naik kopaja 66 untuk pulang ke dekat kampus. Tapi, ini bukan gerbang tadi. Posisinya beda, bagaimana ini? Di luar gerbang itu ada halte busway JCC Senayan.
"Udah, naik busway aja, lebih aman" kata Kak Syir, tapi aku bingung. Aku nggak tahu trayeknya. "Aduh, gampang, nanti arah sana tu udah Gatot Subroto, berhenti di halte Tegal Parang", kata Kak Syir. Ya, asal dekat kampus aku bisa mencari jalan pulang.
Ya, setelah diusir satpam, karena kami duduk di depan pos satpam haha, sinyal untuk cepat-cepat pulang, walaupun aku gak enak, aku merasa tanggung jawabku belum selesai, sedangkan busway hanya sampai pukul 22.00, waktu sudah menunjukkan 21.20, waswas sudah pasti.
Ya, aku gak tahu jalan lain untuk pulang. Terpaksa aku pulang duluan.
Ternyata, JCC dan kampusku itu tidak terlalu jauh, ya ampun. Kalau naik busway tinggal lurus, tanpa transit.
![]() |
| Peta dari Patung Pancoran (Kampus Paramadina hanya sekitar 500 m dari situ) ke Jakarta Convention Center, garis biru adalah jalurnya, lihat antara titik A dan B. (klik untuk memperbesar) |
Ya, hikmah pengalamanku tadi malam adalah sering-sering buka Google Maps, coba-cobalah untuk pergi-pergi, tapi tetap hati-hati.
Dan aku sampai di rumah sekitar pukul 22.00 lewat, dengan kaki nyaris copot. Sudah duduk cuma 10 menit sebelum diusir satpam dan di busway tidak dapat tempat duduk. Berarti waktu berdiri mungkin ada 2 jam. Dan dari Halte Busway Tegal Parang ke tempat tinggalku di dekat kampus itu harus ditempuh jalan kaki 15 menit. Lemas sudah pasti.
Oke, bagaimana nasib orang yang menemaniku?
Kak Syir tidak jadi ketemu temannya, dan pulang sendiri akhirnya.
Hadeh, perjalananku yang sebenarnya dekat sekali mengorbankan orang lain. Ini akibatnya kalau kebanyakan mikir, tapi tidak efisien. Seharusnya waktu gerak di JCC lebih cepat kalau aku bisa berpikir sistematis.
Ya, terima kasih banyak buat Kak Syir, ada pelajaran juga yang aku dapat tadi malam.
Jadi, barangkali, persingkat waktu berpikir, berpikir sistematis dan efisien penting untuk menghindari kejadian yang sama. Dan jangan malu bertanya, karena malu bertanya, jalan-jalan deh alias nyasar.
Udah lama nggak nge-blog. Seketika tiba nge-blog, eh tulisan begini yang terpikir:
Definisi deadliner adalah seseorang yang baru mengerjakan tugas yang sudah didapatkannya sejak lama pada H-1 dari hari pengumpulan tugas.
Sudah berminggu-minggu ini definisi deadliner melekat erat pada diriku...
Saking parahnya, kemarin aku mengerjakan paper dan presentasi bersama temanku dalam 1 malam. Bahan tulisan sekitar 50 halaman, dan itu akan dipresentasikan di pagi harinya.
Ya ampun, apa ini....
Paper itu selesai, 16 halaman, presentasinya juga selesai. Tapi, istirahatku yang belum selesai. Mulai bekerja pukul 10 malam kemudian tertidur jam 1.30 dinihari sampai pukul 3. Lalu, kerja lagi dan tidur sehabis shalat shubuh.
Efeknya, terasa sampai sekarang. Karena secara simultan, aku pasti tertidur siang hari karena kelelahan, dan itu menghambat waktu tidur malam. Begitu seterusnya...
Inikah pola hidup mahasiswa?
Posting ini adalah deklarasi usaha pengubahan diri. Kalau ini berlanjut, begitu banyak keselamatan yang terancam. Ancaman hilangnya kesehatan, ancaman dapat nilai buruk karena baca bahan 50 halaman hanya semalam, ancaman anggapan buruk dari masyarakat. Orang model apa keluyuran jam 3 pagi untuk cari warnet buka untuk nge-print?
Bismillah, harus berubah, berubah, berubah.
Jangan tiru aku. Itu saja.
Definisi deadliner adalah seseorang yang baru mengerjakan tugas yang sudah didapatkannya sejak lama pada H-1 dari hari pengumpulan tugas.
Sudah berminggu-minggu ini definisi deadliner melekat erat pada diriku...
Saking parahnya, kemarin aku mengerjakan paper dan presentasi bersama temanku dalam 1 malam. Bahan tulisan sekitar 50 halaman, dan itu akan dipresentasikan di pagi harinya.
Ya ampun, apa ini....
Paper itu selesai, 16 halaman, presentasinya juga selesai. Tapi, istirahatku yang belum selesai. Mulai bekerja pukul 10 malam kemudian tertidur jam 1.30 dinihari sampai pukul 3. Lalu, kerja lagi dan tidur sehabis shalat shubuh.
Efeknya, terasa sampai sekarang. Karena secara simultan, aku pasti tertidur siang hari karena kelelahan, dan itu menghambat waktu tidur malam. Begitu seterusnya...
Inikah pola hidup mahasiswa?
Posting ini adalah deklarasi usaha pengubahan diri. Kalau ini berlanjut, begitu banyak keselamatan yang terancam. Ancaman hilangnya kesehatan, ancaman dapat nilai buruk karena baca bahan 50 halaman hanya semalam, ancaman anggapan buruk dari masyarakat. Orang model apa keluyuran jam 3 pagi untuk cari warnet buka untuk nge-print?
Bismillah, harus berubah, berubah, berubah.
Jangan tiru aku. Itu saja.
Ini adalah pencerahan yang menurutku sangat menarik. Dialog ini terjadi di lantai 6 sebuah gedung di daerah Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Hari Kamis, sekitar jam 5 sore.
Seseorang bertanya padaku, "Imam, kamu 10 tahun ke depan nanti jadi apa?"
Well, bingung juga jawabnya
"Belum tahu, pak" (beliau yang bertanya padaku adalah Bapak Budi Hartono, seorang yang ku kenal saat bekerja bersama teman-teman Paramadina, menjadi panitia di acara book launching Indonesia Global Compact Network).
Ya, aku jadi bingung juga. Bagaimana menjawab pertanyaan model berikut.
Pak Budi pun melanjutkan.
"Kamu pernah main bola?"
"Ya pak", jawabku.
"Waktu kamu main bola, apa yang pertama kali kamu lakukan bersama teman-temanmu?"
Apa ya? Aku gak suka bola... tetapi ternyata, jawabannya di luar dugaan, sesuatu yang pasti diketahui oleh siapapun..
Jawaban itu adalah: Mengeset gawang..
Gawang (goal), wah sebuah analogi yang tepat sekali.
Beliau melanjutkan
"Dengan membuat gawang, permainan menjadi jelas. Coba kalo gak ada gawang. Mau ngapain? Permainannya jadi gak jelas. Sama dengan kita. Dengan adanya tujuan yang jelas, hidup kita jadi tidak terombang-ambing."
Benar sekali, terkadang sering juga terbesit pikiran seperti itu, tapi kemudian pikiran dengan mudah menepis, "Ah, ngapain dipikirin"..
Beliau lalu melanjutkan
"Walau ada tujuan, kita juga harus menetapkan targetnya. Misal, ada orang bilang, 'saya mau punya rumah bagus'. Oke, tapi kapan realisasinya? Kalau target waktunya tidak ditetapkan, kita tidak tahu kapan itu akan terwujud. Apa yang kita pikirkan sekarang tentang diri kita di masa depan, maka seperti itu pulalah jadinya. Kamu bingung mau jadi apa? Ya, begitu pulalah kamu nanti di masa depan."
Aduh, terasa dilempar batu tepat di kepala...
Benar sekali, kapan realisasinya? Mau jadi apa kita 10 tahun ke depan? Itu merupakan pertanyaan yang sangat penting untuk di jawab. Tidak, bukan hanya di jawab, tetapi dicatat, dicermati, dan diwujudkan.
Dulu aku pernah mengepos 3 tulisan tentang membuang-buang waktu. Kini, hal itu Insya ALLAH tidak akan terjadi lagi.
Yuk, pikirkan dari sekarang.
Mau jadi apa kita 10 tahun ke depan?
Ini adalah kemungkinan kerjaan orang yang tidak punya banyak opsi acara di malam minggu (tidak mengapeli dan tidak diapeli, haha): nyanyi pake gitar rame-rame.
Lagu ini pernah dibawakan Paramadina Choir saat acara wisuda di Universitas Paramadina Oktober tahun lalu, namun sayangnya lagu ini menyimpan kenangan buruk.
Saat Paramadina Choir tengah menyanyikan lagu ini (dan pada saat itu baru masuk reff), tiba-tiba sound yang menuju ke kami dan ke piano pengiringnya diputus, digantikan dengan lagu band. Bingunglah kami, dan dengan kebijaksanaan, conductor kami menghentikan penampilan kami.
Dengan lagu yang sama nadanya dengan waktu wisuda, aku dan 2 orang teman seasrama menyanyikannya kembali.
Silakan download hasil rekaman kami bertiga di bawah ini:
VoiceM_A0067.amr
VoiceM_A0068.amr
VoiceM_A0069.amr
VoiceM_A0070.amr
Cara download 4 file di atas, klik kanan, terus pilih "Save target as.." atau "Save link as.." atau sesuatu yang serupa. Kemudian pilih tempat penyimpanan yang sesuai dengan Anda, dan klik Save. Anda sudah men-download file-file di atas.
Atau versi mp3-nya biar lebih gampang, udah di zip, ukurannya sekitar 10 mega.:
Download di sini
Sebenarnya, download file *.amr-nya saja. Kalau Anda menggunakan Windows 7, Windows Media Player bisa membukanya. Atau, Anda juga bisa pakai Media Player Classic untuk membukanya.
Ini deskripsi dari 4 file di atas:
voiceM_A0067 - Anda akan mendengar intro, dan kemudian awal-awal menyanyi. Tapi, waktu itu aku salah kunci :P. Kunci yang seharusnya dimainkan untuk lagu ini adalah A C#m Bm Dm A, dan waktu itu yang dimainkan adalah A Bm.... riuhlah semuanya. Dengarkan saja biar lebih seru :)
voiceM_A0068 - Di sini kemajuan telah terjadi. Kunci tidak salah, tapi banyak suara yang ngawur. Lagu ini saat reff memiliki 2 jenis suara (untuk versi choir) tapi di sini ada 3 suara karena salah satu personil kami mengikuti nada pada salah satu video di youtube. Dengarkan saja biar jelas yang mana...
voiceM_A0069 - Well, harmonisasi telah terjadi. Mungkin ini adalah file yang terbaik di antara 4 file yang ada.
voiceM_A0070 - Ini rekaman terakhir. Sama saja dengan versi yang voiceM_A0069, hanya saja ada sedikit miss nada saat overtune.
Gitar dimainkan oleh: Imam Hidayat (ikut bernyanyi juga tapi)
Dua suara yang lain: Gema Wahyudi dan Emanuel Agung Cahyono
Mungkin ada yang mau ikut menyanyi, ini liriknya:
Lagu ini bagus sekali kalau dinyanyikan oleh couple. Dan kali ini, yang menyanyikannya adalah 3 orang jomblo haha..
Enjoy our voice!
Lagu ini pernah dibawakan Paramadina Choir saat acara wisuda di Universitas Paramadina Oktober tahun lalu, namun sayangnya lagu ini menyimpan kenangan buruk.
Saat Paramadina Choir tengah menyanyikan lagu ini (dan pada saat itu baru masuk reff), tiba-tiba sound yang menuju ke kami dan ke piano pengiringnya diputus, digantikan dengan lagu band. Bingunglah kami, dan dengan kebijaksanaan, conductor kami menghentikan penampilan kami.
Dengan lagu yang sama nadanya dengan waktu wisuda, aku dan 2 orang teman seasrama menyanyikannya kembali.
Silakan download hasil rekaman kami bertiga di bawah ini:
VoiceM_A0067.amr
VoiceM_A0068.amr
VoiceM_A0069.amr
VoiceM_A0070.amr
Cara download 4 file di atas, klik kanan, terus pilih "Save target as.." atau "Save link as.." atau sesuatu yang serupa. Kemudian pilih tempat penyimpanan yang sesuai dengan Anda, dan klik Save. Anda sudah men-download file-file di atas.
Atau versi mp3-nya biar lebih gampang, udah di zip, ukurannya sekitar 10 mega.:
Download di sini
Sebenarnya, download file *.amr-nya saja. Kalau Anda menggunakan Windows 7, Windows Media Player bisa membukanya. Atau, Anda juga bisa pakai Media Player Classic untuk membukanya.
Ini deskripsi dari 4 file di atas:
voiceM_A0067 - Anda akan mendengar intro, dan kemudian awal-awal menyanyi. Tapi, waktu itu aku salah kunci :P. Kunci yang seharusnya dimainkan untuk lagu ini adalah A C#m Bm Dm A, dan waktu itu yang dimainkan adalah A Bm.... riuhlah semuanya. Dengarkan saja biar lebih seru :)
voiceM_A0068 - Di sini kemajuan telah terjadi. Kunci tidak salah, tapi banyak suara yang ngawur. Lagu ini saat reff memiliki 2 jenis suara (untuk versi choir) tapi di sini ada 3 suara karena salah satu personil kami mengikuti nada pada salah satu video di youtube. Dengarkan saja biar jelas yang mana...
voiceM_A0069 - Well, harmonisasi telah terjadi. Mungkin ini adalah file yang terbaik di antara 4 file yang ada.
voiceM_A0070 - Ini rekaman terakhir. Sama saja dengan versi yang voiceM_A0069, hanya saja ada sedikit miss nada saat overtune.
Gitar dimainkan oleh: Imam Hidayat (ikut bernyanyi juga tapi)
Dua suara yang lain: Gema Wahyudi dan Emanuel Agung Cahyono
Mungkin ada yang mau ikut menyanyi, ini liriknya:
I don't have to say a word to you
You seem to know whatever mood I'm going through
Feel as though I've known you forever
You can look into my eyes and see
The way I feel and how the world is treating me
Maybe I have known you forever
[*]
Amigos para siempre means you'll always be my friend
Amigos para siempre means a love that cannot end
Friends for life not just a summer or a spring
Amigos para siempre
I feel you near me even when we are apart
Just knowing you are in this world can warm my heart
Friends for life not for a summer or a spring
Amigos para siempre
[end of *]
We'll share memories I won't forget
And we'll share more my friend we haven't started yet
Something happens when we're together
When I look at you I wonder why
There has to come a time when we must say goodbye
I'm alive when we are together
[Goto *]
[Overtune, naik 1 1/2 laras]
[Goto *]
Amigos para siempre
Lagu ini bagus sekali kalau dinyanyikan oleh couple. Dan kali ini, yang menyanyikannya adalah 3 orang jomblo haha..
Enjoy our voice!
Subscribe to:
Posts (Atom)





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact