Pada Allah aku serahkan segalanya.
Bismillah..
![]() |
| Paramadina Choir |
Ini H-2, Unit Kegiatan Mahasiswa Paramadina Choir akan mengadakan Pre-Competition Concert bertajuk "Bersama Merajut Nada, Jalan Meraih Mimpi" Senin nanti. Persis 8 hari setelah Senin nanti, tim Paramadina Choir akan berangkat ke 3rd Vietnam International Choir Competition di Kota Hoi An, Vietnam.
Euphoria-nya terasa sekali. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai keberangkatan dan kepulangan mereka nanti. Semoga ada sesuatu yang dibawa tim Paramadina Choir dari sana. :)
Kalau dipikir-pikir, apa yang membuat seorang mahasiswa bisa bangun setiap pagi untuk kemudian duduk berjam-jam di kelas dan mengerjakan banyak tugas yang menumpuk? Apa yang membuat seorang pegawai kantoran bangun pagi dan pergi ke kantor untuk mengerjakan begitu banyak perintah dari pimpinannya? Apa yang menyebabkan seorang ibu-ibu tua pagi-pagi bangun menjajakan barang dagangannya di pasar?
Tentu karena ada suatu motivasi. Ada sesuatu yang ingin seseorang capai dengan menjalankan suatu rentetan kegiatan-kegiatan itu. Setiap orang yang belajar, barangkali punya keinginan untuk menjadi seseorang yang pintar di kemudian hari. Setiap orang yang bekerja, barangkali punya keinginan untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai keluarganya. Jauh sebelum kegiatan-kegiatan itu dimulai, pasti ada suatu pemikiran yang terlintas, berkecamuk, dan kemudian melahirkan gagasan untuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk menuntaskan pikiran-pikiran itu..
Motivasi barangkali adalah sumber energi untuk setiap kegiatan itu. Setiap kali seseorang melakukan kegiatan, motivasi akan memperkuat langkah untuk mengerjakan segala sesuatunya. Motivasilah yang menggerakkan tubuh dan memberikan sugesti.
Namun, salah satu common fact yang menarik adalah: motivasi hanya kuat di awal saja.
Kalau motivasi dianalogikan di dunia nyata, mungkin motivasi itu adalah baterai. Saat baru dibeli, baterai itu terisi penuh dengan energi. Ketika energinya dipakai di berbagai macam perangkat, lama-lama total energinya akan berkurang, dan dalam keadaan tertentu akan habis dan tidak bisa dipakai.
Jika ingin baterai tetap bisa dipakai, maka secara berkala sebelum benar-benar habis, baterai itu harus di recharge. Energinya harus diisi agar kembali penuh. Dengan demikian, baterai tersebut bisa digunakan untuk perangkat lainnya lagi, menjalankan aktifitas yang ada.
Salah satu hal yang lumrah dari manusia adalah derajat kekuatan imannya yang fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, kekuatan iman naik dan turun seiring dengan berkurangnya umur. Perilaku serupa juga nampak di derajat kekuatan cinta seseorang terhadap sesuatu, dan juga nampak di derajat kekuatan motivasi seseorang.
Menjaga motivasi merupakan hal yang harus selalu dilakukan untuk menjaga semangat yang ada untuk melaksanakan aktifitas setiap hari. Maka dari itu, tiap mengerjakan sesuatu dan kita mulai malas, barangkali salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengingat kembali tujuan awal.
Pertanyaan sederhana: "Untuk apa diri kita berjalan sejauh ini?"
Posisi yang kita dapatkan saat ini, merupakan akumulasi dari begitu banyak pengorbanan yang telah terjadi sebelumnya. Pengorbanan-pengorbanan itu tidak selalu dari diri kita sendiri. Ada banyak pengorbanan orang lain yang kemudian mengantarkan pada diri kita di posisi ini saat ini.
Paling tidak, untuk dapat berdiri tegak di posisi kita saat ini, ada pengorbanan orang-orang yang telah merawat kita sejak di dalam kandungan, hingga kemudian lahir, hingga kemudian bersekolah, dan hingga dewasa.. Ada perjuangan besar orang lain di dalam diri kita. Kita hidup dari perjuangan itu.
Lalu, akan kita tebus dengan apa pengorbanan-pengorbanan itu?
Pada intinya, everything running at cost. Segala sesuatu berjalan dengan suatu harga yang harus ditebus. Tidak mesti selalu uang. Paling tidak, waktu adalah harga yang harus selalu kita tebus. Kita tak selamanya hidup di dunia yang fana ini bukan? Suatu hari jatah waktu kita akan habis, dan jatah waktu itu bukan milik kita. Kita akan bertanggungjawab pada pemiliknya, pencipta alam semesta.
"... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali-’Imran: 159)
Tentu karena ada suatu motivasi. Ada sesuatu yang ingin seseorang capai dengan menjalankan suatu rentetan kegiatan-kegiatan itu. Setiap orang yang belajar, barangkali punya keinginan untuk menjadi seseorang yang pintar di kemudian hari. Setiap orang yang bekerja, barangkali punya keinginan untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai keluarganya. Jauh sebelum kegiatan-kegiatan itu dimulai, pasti ada suatu pemikiran yang terlintas, berkecamuk, dan kemudian melahirkan gagasan untuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk menuntaskan pikiran-pikiran itu..
Motivasi barangkali adalah sumber energi untuk setiap kegiatan itu. Setiap kali seseorang melakukan kegiatan, motivasi akan memperkuat langkah untuk mengerjakan segala sesuatunya. Motivasilah yang menggerakkan tubuh dan memberikan sugesti.
Namun, salah satu common fact yang menarik adalah: motivasi hanya kuat di awal saja.
Kalau motivasi dianalogikan di dunia nyata, mungkin motivasi itu adalah baterai. Saat baru dibeli, baterai itu terisi penuh dengan energi. Ketika energinya dipakai di berbagai macam perangkat, lama-lama total energinya akan berkurang, dan dalam keadaan tertentu akan habis dan tidak bisa dipakai.
Jika ingin baterai tetap bisa dipakai, maka secara berkala sebelum benar-benar habis, baterai itu harus di recharge. Energinya harus diisi agar kembali penuh. Dengan demikian, baterai tersebut bisa digunakan untuk perangkat lainnya lagi, menjalankan aktifitas yang ada.
Salah satu hal yang lumrah dari manusia adalah derajat kekuatan imannya yang fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, kekuatan iman naik dan turun seiring dengan berkurangnya umur. Perilaku serupa juga nampak di derajat kekuatan cinta seseorang terhadap sesuatu, dan juga nampak di derajat kekuatan motivasi seseorang.
Menjaga motivasi merupakan hal yang harus selalu dilakukan untuk menjaga semangat yang ada untuk melaksanakan aktifitas setiap hari. Maka dari itu, tiap mengerjakan sesuatu dan kita mulai malas, barangkali salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengingat kembali tujuan awal.
Pertanyaan sederhana: "Untuk apa diri kita berjalan sejauh ini?"
Posisi yang kita dapatkan saat ini, merupakan akumulasi dari begitu banyak pengorbanan yang telah terjadi sebelumnya. Pengorbanan-pengorbanan itu tidak selalu dari diri kita sendiri. Ada banyak pengorbanan orang lain yang kemudian mengantarkan pada diri kita di posisi ini saat ini.
Paling tidak, untuk dapat berdiri tegak di posisi kita saat ini, ada pengorbanan orang-orang yang telah merawat kita sejak di dalam kandungan, hingga kemudian lahir, hingga kemudian bersekolah, dan hingga dewasa.. Ada perjuangan besar orang lain di dalam diri kita. Kita hidup dari perjuangan itu.
Lalu, akan kita tebus dengan apa pengorbanan-pengorbanan itu?
Pada intinya, everything running at cost. Segala sesuatu berjalan dengan suatu harga yang harus ditebus. Tidak mesti selalu uang. Paling tidak, waktu adalah harga yang harus selalu kita tebus. Kita tak selamanya hidup di dunia yang fana ini bukan? Suatu hari jatah waktu kita akan habis, dan jatah waktu itu bukan milik kita. Kita akan bertanggungjawab pada pemiliknya, pencipta alam semesta.
"... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali-’Imran: 159)
Kadang-kadang aku terlalu percaya dengan logikaku sendiri. Ketika aku menemukan suatu kesimpulan atas sesuatu, aku akan sangat percaya dengan hasilnya. Tapi bukan tanpa sebab, karena aku sangat hati-hati dalam memilih dan memilah bukti. Apa yang aku dapatkan validitasnya sangat tinggi untuk standarku.
Maka, kadang-kadang ketika aku mendengar klarifikasi orang lain tentang suatu hal yang sudah aku analisis kesimpulannya, aku tidak mempercayai kata-kata mereka. Aku bisa tahu mana argumen yang merupakan penjelasan, atau mana argumen yang hanya alasan saja untuk menutupi sesuatu. Berdiplomasi denganku sulit, jadi langsung to the point sajalah. Aku tahu maksud mereka yang membutuhkan sesuatu, aku tahu maksud mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.
Mungkin tidak terlalu baik, karena pasti ada kalanya dugaanku salah. Tidak ada deduksi yang selalu benar. Terkadang ada fakta yang terlewatkan sedemikian sehingga semuanya luput. Kesimpulan yang didapatkan pun menjadi salah alurnya.
Namun tentunya tidak selalu. Tentu frekuensi benarnya cukup tinggi. Karena itu aku benci orang yang mencari alasan untuk menghindari kesalahannya atau untuk menutupi sesuatu. Akui sajalah kalau memang bersalah, karena kalau sudah melewati analisisku, aku takkan mudah percaya pada siapapun. Apalagi untuk golongan-golongan orang yang suka mem-plot hidup orang lain supaya sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Menjadikan aku target akan membuang tenaga kalian lebih banyak.
Ketus sekali ya?
Maka, kadang-kadang ketika aku mendengar klarifikasi orang lain tentang suatu hal yang sudah aku analisis kesimpulannya, aku tidak mempercayai kata-kata mereka. Aku bisa tahu mana argumen yang merupakan penjelasan, atau mana argumen yang hanya alasan saja untuk menutupi sesuatu. Berdiplomasi denganku sulit, jadi langsung to the point sajalah. Aku tahu maksud mereka yang membutuhkan sesuatu, aku tahu maksud mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.
Mungkin tidak terlalu baik, karena pasti ada kalanya dugaanku salah. Tidak ada deduksi yang selalu benar. Terkadang ada fakta yang terlewatkan sedemikian sehingga semuanya luput. Kesimpulan yang didapatkan pun menjadi salah alurnya.
Namun tentunya tidak selalu. Tentu frekuensi benarnya cukup tinggi. Karena itu aku benci orang yang mencari alasan untuk menghindari kesalahannya atau untuk menutupi sesuatu. Akui sajalah kalau memang bersalah, karena kalau sudah melewati analisisku, aku takkan mudah percaya pada siapapun. Apalagi untuk golongan-golongan orang yang suka mem-plot hidup orang lain supaya sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Menjadikan aku target akan membuang tenaga kalian lebih banyak.
Ketus sekali ya?
Akhir-akhir ini sepertinya aku sedang disindir oleh Allah.. Dalam 2 minggu ini aku sering mendengar cerita-cerita, tetapi bukan cerita motivasi, melainkan cerita tentang kegagalan yang pada awalnya, semua kegagalan tersebut dimulai dari suatu rencana yang sangat baik dan tersusun rapi.
Ngomong-ngomong, tahun ini sudah hampir genap 3 tahun kuliahku. Tahun depan, insya Allah kuliah ini akan selesai. Rutinitas akan segera berganti, dan cemasnya sudah terasa sekali dari sekarang.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Nggak tahu sebenarnya, tapi kepingin aja nge-posting gambar ini. :P
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
![]() |
| Cover Presentasi |
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact