Kadang-kadang aku terlalu percaya dengan logikaku sendiri. Ketika aku menemukan suatu kesimpulan atas sesuatu, aku akan sangat percaya dengan hasilnya. Tapi bukan tanpa sebab, karena aku sangat hati-hati dalam memilih dan memilah bukti. Apa yang aku dapatkan validitasnya sangat tinggi untuk standarku.
Maka, kadang-kadang ketika aku mendengar klarifikasi orang lain tentang suatu hal yang sudah aku analisis kesimpulannya, aku tidak mempercayai kata-kata mereka. Aku bisa tahu mana argumen yang merupakan penjelasan, atau mana argumen yang hanya alasan saja untuk menutupi sesuatu. Berdiplomasi denganku sulit, jadi langsung to the point sajalah. Aku tahu maksud mereka yang membutuhkan sesuatu, aku tahu maksud mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.
Mungkin tidak terlalu baik, karena pasti ada kalanya dugaanku salah. Tidak ada deduksi yang selalu benar. Terkadang ada fakta yang terlewatkan sedemikian sehingga semuanya luput. Kesimpulan yang didapatkan pun menjadi salah alurnya.
Namun tentunya tidak selalu. Tentu frekuensi benarnya cukup tinggi. Karena itu aku benci orang yang mencari alasan untuk menghindari kesalahannya atau untuk menutupi sesuatu. Akui sajalah kalau memang bersalah, karena kalau sudah melewati analisisku, aku takkan mudah percaya pada siapapun. Apalagi untuk golongan-golongan orang yang suka mem-plot hidup orang lain supaya sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Menjadikan aku target akan membuang tenaga kalian lebih banyak.
Ketus sekali ya?
Akhir-akhir ini sepertinya aku sedang disindir oleh Allah.. Dalam 2 minggu ini aku sering mendengar cerita-cerita, tetapi bukan cerita motivasi, melainkan cerita tentang kegagalan yang pada awalnya, semua kegagalan tersebut dimulai dari suatu rencana yang sangat baik dan tersusun rapi.
Ngomong-ngomong, tahun ini sudah hampir genap 3 tahun kuliahku. Tahun depan, insya Allah kuliah ini akan selesai. Rutinitas akan segera berganti, dan cemasnya sudah terasa sekali dari sekarang.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Nggak tahu sebenarnya, tapi kepingin aja nge-posting gambar ini. :P
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
![]() |
| Cover Presentasi |
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Kalau kamu adalah seorang mahasiswa yang merantau, cobalah ingat-ingat, kira-kira berapa hari lamanya kamu akan bertemu dengan keluargamu, dan berapa hari kamu akan menuntut ilmu di kampusmu yang jauh dari rumah itu selama satu tahun.
Untuk aku, rasionya sekitar 23:342. Aku menuntaskan rinduku pada keluargaku selama 6.73% dari jumlah hari dalam 1 tahun, dan itu berarti 93.27% waktuku dalam 1 tahun habis ketika berada di tanah rantauan.
Lalu, dengan apa akan kutebus rindu itu nanti?
Ah, yang aku tahu pasti hanya satu: hanya Engkaulah yang maha tahu, dzat yang maha perkasa. Inilah ikhtiar hamba..dan dari segala harapan yang sering hamba ucapkan, kabulkanlah permohonan hamba untuk tetap istiqamah.
Untuk aku, rasionya sekitar 23:342. Aku menuntaskan rinduku pada keluargaku selama 6.73% dari jumlah hari dalam 1 tahun, dan itu berarti 93.27% waktuku dalam 1 tahun habis ketika berada di tanah rantauan.
Lalu, dengan apa akan kutebus rindu itu nanti?
Ah, yang aku tahu pasti hanya satu: hanya Engkaulah yang maha tahu, dzat yang maha perkasa. Inilah ikhtiar hamba..dan dari segala harapan yang sering hamba ucapkan, kabulkanlah permohonan hamba untuk tetap istiqamah.
Walaupun sulit, akan kutempuh,
demi orang-orang yang aku cintai.
Hal ini sering terjadi padaku ketika pada suatu malam hari (biasanya sebelum tidur) terlintas suatu pikiran yang bersifat praduga dalam bentuk prasangka buruk yang tiba-tiba datang tanpa permisi lalu mengaktifkan seluruh saraf minat investigasi di dalam kepalaku. Kalau itu sudah terjadi, hh.. lupakan saja untuk tidur karena berguling-guling di kasur hanya akan membuat pikiran buruk itu semakin kuat.
Ketika sindrom prasangka ini menguat dengan derajat yang signifikan, maka dibanding stres di tempat tidur, aku biasanya akan bangun dan membuka laptop, kemudian mengetikkan semua poin-poin yang harus aku selidiki dan pikirkan.
Ngg, by the way, akhir-akhir ini sindrom ini sering menjangkiti diriku, dan topiknya selalu sama sejak setahun yang lalu.
Saat berguling-guling di tempat tidur tadi, aku menyadari bahwa saat itu pengaruh emosi sangat tinggi, sehingga otak kemudian meng-generate begitu banyak kalimat tegas menusuk yang rasanya ingin cepat-cepat dilontarkan ketika bertemu dengan orang yang menjadi muara awal timbulnya prasangka tersebut. Ternyata setelah diproses di laptop, perasaan-perasaan tersebut perlahan-lahan lenyap.
Kalau dipikir-pikir, grafik naiknya emosi saat sejak timbul prasangka sampai membuka laptop itu mirip dengan kurva emisi benda hitam pada berbagai suhu, seperti di bawah ini.
Lihat garis yang berwarna biru, persis seperti itu kenaikan emosinya. Dalam kasus aku ini, sumbu y merupakan derajat emosi dan sumbu x merupakan satuan waktu.
Yah, begitulah.
Hanya saja, saat membaca kembali, begitu banyak bukti-bukti dari prasangka tersebut yang terlanjur sudah terkumpul lewat berbagai media yang bisa diakses lewat internet. Jadi, terkadang aku malah jadi ragu dan bingung, apakah aku harus melanjutkan niatku untuk menguak kebenaran prasangkaku tadi atau tidak. Aku jadi agak khawatir dengan kesehatan mentalku sendiri. :(
Aku tidak ingin kehilangan kemampuan analisis atau minat investigasi yang aku miliki ini. Hanya saja aku berharap, waktu-waktu datangnya minat tersebut bisa lebih dikontrol.
Bisakah?
Huff.. Bismillah. Semoga saja.
Ketika sindrom prasangka ini menguat dengan derajat yang signifikan, maka dibanding stres di tempat tidur, aku biasanya akan bangun dan membuka laptop, kemudian mengetikkan semua poin-poin yang harus aku selidiki dan pikirkan.
Ngg, by the way, akhir-akhir ini sindrom ini sering menjangkiti diriku, dan topiknya selalu sama sejak setahun yang lalu.
Saat berguling-guling di tempat tidur tadi, aku menyadari bahwa saat itu pengaruh emosi sangat tinggi, sehingga otak kemudian meng-generate begitu banyak kalimat tegas menusuk yang rasanya ingin cepat-cepat dilontarkan ketika bertemu dengan orang yang menjadi muara awal timbulnya prasangka tersebut. Ternyata setelah diproses di laptop, perasaan-perasaan tersebut perlahan-lahan lenyap.
Kalau dipikir-pikir, grafik naiknya emosi saat sejak timbul prasangka sampai membuka laptop itu mirip dengan kurva emisi benda hitam pada berbagai suhu, seperti di bawah ini.
| Black body curves of Planck for various temperatures and comparison with classical theory of Rayleigh-Jeans. (http://en.wikipedia.org/wiki/File:Black_body.svg) |
Lihat garis yang berwarna biru, persis seperti itu kenaikan emosinya. Dalam kasus aku ini, sumbu y merupakan derajat emosi dan sumbu x merupakan satuan waktu.
Yah, begitulah.
Hanya saja, saat membaca kembali, begitu banyak bukti-bukti dari prasangka tersebut yang terlanjur sudah terkumpul lewat berbagai media yang bisa diakses lewat internet. Jadi, terkadang aku malah jadi ragu dan bingung, apakah aku harus melanjutkan niatku untuk menguak kebenaran prasangkaku tadi atau tidak. Aku jadi agak khawatir dengan kesehatan mentalku sendiri. :(
Aku tidak ingin kehilangan kemampuan analisis atau minat investigasi yang aku miliki ini. Hanya saja aku berharap, waktu-waktu datangnya minat tersebut bisa lebih dikontrol.
Bisakah?
Huff.. Bismillah. Semoga saja.
Posting ini bisa dikatakan.. random thought lagi. Yah, bagi yang mau baca silakan. :P
Hari ini adalah h-1 terakhir aku magang di kantor bersama teman-teman Paramadina di Rajawali Group. Entah kenapa suasana hari ini sedikit lebih cair dari biasanya. Nah, tiba-tiba terjadi percakapan berikut:
Tokoh dalam percakapan ini ada 3: Pak Hendry (supervisor ku di kantor) dan Bu Dian (atasannya Pak Hendry).
Pak Hendry: (karena suatu dan lain hal ada percakapan sebelumnya) "...nah ajak Imam aja itu makannya"
Bu Dian: "Lah, Imam pasti puasa ya gak mam? Gimana Hendry ini. Dari badannya aja, kelihatan walaupun gak puasa Imam pasti tiap harinya puasa."
Aku: -_-
Pak Hendry: "Iya, puasa anak kost"
Aku: Haha :D
Bu Dian: "Jangan-jangan ini Imam puasa biar dapet cewek ini. Gak dapet-dapet pula ya Mam ya?"
Aku: ... (dalam hati, "Emang kalau mau punya cewek harus puasa ya? Tirakat, atau nyantet gitu? -_-")
Lalu tiba-tiba Bu Dian bercerita bahwa dulu waktu beliau kost semasa kuliah, ibu kost-nya baik sekali, karena tiap pagi penghuni rumah kost-nya selalu dihidangkan makanan untuk sarapan pagi, dan makanannya banyak dan enak.
Setelah hiruk pikuk pekerjaan, lalu pulanglah aku dari kantor, jam setengah 6 lewat, telat buka sudah pasti, dan lupa bawa minum pula. -_-
Saat aku pulang, aku sempatkan mampir di warteg yang selalu aku lewati setiap berangkat pergi-pulang kantor. Aku langsung makan sekalian untuk berbuka di situ, sekitar jam 18 lewat belasan menit.
Tengah-tengah aku makan, tak sengaja aku mendengar sang anak pemilik warteg bercerita kepada ibunya, intinya bahwa dia kekurangan tidur, karena belajar terus. Sepertinya dia bersekolah di pesantren.
Lalu ibunya berkata, "Lah, prihatin lah nak, biar ilmunya masuk. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.."
Tiba-tiba ada sekilas keheningan di kepalaku.
Anak kecil itu masih membela dirinya sendiri dengan polos. Sang ibu lalu berkata, "Nanti, kalau kamu udah sukses, mau tidur seharian juga boleh. Sekarang susah-susah dulu, kan masih belajar."
Dalam benakku, "..."
Benar juga..
Aku sudah lupa, bahwa memang seharusnya seperti itu. Itulah kenapa anak-anak yang dididik untuk mandiri saat sekolah, akan jauh lebih sukses dan berarti hidupnya. Aku punya banyak contoh teman-teman yang seperti itu.
Tiba-tiba aku seperti tersindir..
Ya, hidupku terlalu nyaman.
Aku masih muda, masih sanggup untuk lelah-lelah dan mengantuk-ngantuk untuk berpikir dan bekerja. Seharusnya aku tidak terlalu memanjakan diriku.
Mandiri, bukan berarti menyiksa diri kok. Hanya saja, kadar usahanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sekedar buka internet dan tidur-tiduran setiap hari, tetapi lebih dari itu, bekerja dan berpikir untuk sesuatu yang menghasilkan pola pikir dan kebiasaan yang baik pula.
Teguran ya.. Maha suci Allah.. di manapun, ada saja pembelajaran dariNya.
--{o}--
Hari ini adalah h-1 terakhir aku magang di kantor bersama teman-teman Paramadina di Rajawali Group. Entah kenapa suasana hari ini sedikit lebih cair dari biasanya. Nah, tiba-tiba terjadi percakapan berikut:
Tokoh dalam percakapan ini ada 3: Pak Hendry (supervisor ku di kantor) dan Bu Dian (atasannya Pak Hendry).
Pak Hendry: (karena suatu dan lain hal ada percakapan sebelumnya) "...nah ajak Imam aja itu makannya"
Bu Dian: "Lah, Imam pasti puasa ya gak mam? Gimana Hendry ini. Dari badannya aja, kelihatan walaupun gak puasa Imam pasti tiap harinya puasa."
Aku: -_-
Pak Hendry: "Iya, puasa anak kost"
Aku: Haha :D
Bu Dian: "Jangan-jangan ini Imam puasa biar dapet cewek ini. Gak dapet-dapet pula ya Mam ya?"
Aku: ... (dalam hati, "Emang kalau mau punya cewek harus puasa ya? Tirakat, atau nyantet gitu? -_-")
Lalu tiba-tiba Bu Dian bercerita bahwa dulu waktu beliau kost semasa kuliah, ibu kost-nya baik sekali, karena tiap pagi penghuni rumah kost-nya selalu dihidangkan makanan untuk sarapan pagi, dan makanannya banyak dan enak.
Setelah hiruk pikuk pekerjaan, lalu pulanglah aku dari kantor, jam setengah 6 lewat, telat buka sudah pasti, dan lupa bawa minum pula. -_-
Saat aku pulang, aku sempatkan mampir di warteg yang selalu aku lewati setiap berangkat pergi-pulang kantor. Aku langsung makan sekalian untuk berbuka di situ, sekitar jam 18 lewat belasan menit.
Tengah-tengah aku makan, tak sengaja aku mendengar sang anak pemilik warteg bercerita kepada ibunya, intinya bahwa dia kekurangan tidur, karena belajar terus. Sepertinya dia bersekolah di pesantren.
Lalu ibunya berkata, "Lah, prihatin lah nak, biar ilmunya masuk. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.."
Tiba-tiba ada sekilas keheningan di kepalaku.
Anak kecil itu masih membela dirinya sendiri dengan polos. Sang ibu lalu berkata, "Nanti, kalau kamu udah sukses, mau tidur seharian juga boleh. Sekarang susah-susah dulu, kan masih belajar."
Dalam benakku, "..."
Benar juga..
Aku sudah lupa, bahwa memang seharusnya seperti itu. Itulah kenapa anak-anak yang dididik untuk mandiri saat sekolah, akan jauh lebih sukses dan berarti hidupnya. Aku punya banyak contoh teman-teman yang seperti itu.
Tiba-tiba aku seperti tersindir..
Ya, hidupku terlalu nyaman.
Aku masih muda, masih sanggup untuk lelah-lelah dan mengantuk-ngantuk untuk berpikir dan bekerja. Seharusnya aku tidak terlalu memanjakan diriku.
Mandiri, bukan berarti menyiksa diri kok. Hanya saja, kadar usahanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sekedar buka internet dan tidur-tiduran setiap hari, tetapi lebih dari itu, bekerja dan berpikir untuk sesuatu yang menghasilkan pola pikir dan kebiasaan yang baik pula.
Teguran ya.. Maha suci Allah.. di manapun, ada saja pembelajaran dariNya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact