Dulu...
Saya hidup di wilayah persaingan ketat, primitif. Olimpiade fisika, keorganisasian, debat, dan karya tulis, dulu begitu senang rasanya, dan mudah.
Tapi, kini...
Start from zero, bergaul di lingkungan yang belum pernah disinggahi sebelumnya, asing, dan berbeda. Hidup terbuka, gaya bicara 'gue loe', gaya hidup kota, polusi, jauh dari orang tua, jauh dari mana-mana (Jakarta), keras lingkungannya..
Saya dulu hidup di wilayah sains, dan kini hidup di wilayah non-sains. Olimpiade fisika lawan paduan suara, gimana coba?
Paramadina, kini adalah lingkungan hidup saya. Di sana, orang begitu bebas menyampaikan sikap. Unit kegiatan yang ada di sana lebih ke menuju ke sosial dan seni: teater, tari, bahasa, paduan suara, capoeira, diskusi budaya, well..
Saat ada peringatan, entah hari apapun itu, paramadina merayakannya tidak dengan MC berbusana rapi atau berkebaya, namun dengan baju dandanan nyentrik sambil berpuisi. It's a shock.
What should I do?
Apa yang ALLAH rencanakan untuk saya?
Tentu, ada...
Sebenarnya, mana yang lebih mudah ditangani, masalah sains atau sosial? Jawabannya adalah masalah sains.
Di sains, semuanya jelas, berapa besar gravitasi bumi, diameter bumi, jarak bumi ke matahari, berat air setiap 1 meter kubik, nomor atom natrium...
Sedangkan, di sosial, semuanya serba abstrak. Tak ada kepastian. Semua berada dalam pernyataan kemungkinan dan probabilitas. Berapa jumlah orang baik setiap 10 orang? Tidak ada yang bisa jawab. Bahkan, apa itu orang baik? itu relatif.
Saat suatu wadah bocor dengan diameter kebolongan tertentu, saintis tinggal mencari perangkat untuk menutup lubang itu. Tapi, kebocoran sosial? Siapa yang bisa menambalnya?
Masalah sains yang berdampak besar apa misalnya? Pengembangan nuklir, global warming, rata-rata dampak efeknya baru akan benar-benar terasa puluhan tahun ke depan, bahkan lebih. Namun, ketika ada sedikit masalah sosial, pencurian, kekerasan, orang tidak perlu menunggu sekian tahun. Saat itu juga akan terasa.
Hai Imam, kini kamu diajari untuk menyikapi sesuatu lewat perasaan dan toleransi, tidak dengan pertimbangan ilmiah yang berlebihan. Kadang teori ilmiah, lebih terasa seperti dengungan nyamuk di masyarakat jika tak ada implementasinya.
Memang benar. Saya hidup nanti di masyarakat, tidak di dalam operating system komputer.
Ya, sudahlah. Mari menunggu hasil transisi ini.
Saturday, January 1, 2011
1 comments
Kaleidoskop 2010 - Mengenang Perjuangan, Mempersiapkan Masa Depan
Malam ini, sebuah tahun yang paling berkesan dalam hidup saya akan berakhir, digantikan oleh sebuah tahun yang seharusnya menjadi terbitan baru dari resolusi diri saya di masa depan.
Mengingat berada di akhir tahun, rasanya ingin sekali mengingat semua perjuangan yang telah terjadi di tahun ini.
Tahun ini adalah akhir dari era abu-abu. Ya, era SMA yang menyenangkan. Setelah berkutat dengan kertas ujian selama satu minggu, sekolah yang tercinta pun mulai ditinggalkan. Sekitar bulan Maret yang lalu, saya mulai berjuang keras, mencari kuliah untuk melanjutkan studi saya.
Studi saya, dibatasi oleh kendala finansial. I was not only just thinking about how to pass the enrollment test, but also about how to avoid the cost. Saya anak pertama, saya penopang punggung keluarga, kurang dari 5 tahun ke depan.
Berangkat dengan segala keterbatasan biaya, dan dengan impian bisa melanjutkan studi, saya mencari universitas-universitas untuk didaftari. Saya mengikuti beberapa program beasiswa di beberapa universitas seperti Universitas Paramadina, President University, dan Universitas Teknologi Yogyakarta. Selain itu, saya juga mengikuti program beasiswa D3 Metrologi ITB, yakni beasiswa penuh untuk belajar (tanpa living cost) yang diselenggarakan oleh ITB dan Departemen Perdagangan. Selain itu, saya juga mengikuti program beasiswa ke Malaysia yang diselenggarakan Bank CIMB Niaga, serta program beasiswa ke Jepang, Monbukagakusho.
Dan tidak lupa, mengandalkan SNMPTN untuk mengejar Teknik Informatika Universitas Bengkulu.
Ujian dilaksanakan di berbagai kota. Menyenangkan juga, bepergian ke luar kota sendiri, dan tidak ke satu kota saja. Pengalaman indah sekali.
Dari seluruh universitas yang saya daftari, yang paling saya harapkan adalah Universitas Paramadina. Mengapa? Karena program beasiswanya yang sangat komprehensif.
Paramadina, lewat program Paramadina Fellowship menerima sampai 100 orang mahasiswa yang akan dibiayai penuh, dari biaya sekolah sampai biaya hidup. Selain itu, juga akan diberi koneksi ke berbagai macam link yang tersedia di Jakarta, baik dari korporat, maupun lainnya.
Dana beasiswa berasal dari donor yang berasal dari tokoh-tokoh wirausahawan dan korporat yang namanya besar. Setiap mahasiswa yang diterima akan memiliki donor sendiri yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, namun juga dukungan moral untuk pengembangan diri.
Kuliah dijatah hanya selama 3.5 tahun, dan itu sangat memacu sekali. Universitas ini kecil dan unik, dan dikepalai oleh seorang yang terkenal di bidang pendidikan, Bapak Anies Baswedan, Ph. D., seseorang yang juga merupakan tokoh idola saya.
Bagaimana proses seleksinya? Pendaftar mengirimkan berkas untuk diseleksi dan kemudian yang lolos akan di-interview.
Alhamdulillah, saya lolos tahap seleksi berkas dan berhak mengikuti interview. Ada cerita menarik saat interview ini.
Saya mendapatkan giliran interview via phone dan diberi giliran antara pukul 9 sampai 12 siang, menurut pemberitahuan. Kebetulan pada hari itu, siang harinya saya harus berangkat ke Palembang, untuk mengikuti seleksi program beasiswa ke Malaysia yang diselenggarakan Bank CIMB Niaga.
Saya resah sekali dalam rentang waktu 3 jam itu. Kamar saya tutup dan handphone saya pegang erat-erat. Lama sekali rasanya waktu itu, dan akhirnya sampai pukul 12 saya tidak ditelepon sama sekali.
Walau bingung, saya tidak bisa berbuat apa-apa. "Barangkali besok..." pikiran saya waktu itu. Ternyata tidak.
Saat saya sedang di jalan menuju pool bus Putra Rafflesia, yang akan mengantarkan saya ke Palembang, masuklah telepon dengan 3 nomor awal 021. Ya ampun, ini pasti dari Paramadina, dan ternyata: benar.
Saya sedang di angkot waktu itu, dan akhirnya saya minta dispensasi 20 menit sebelum memulai interview agar saya bisa duduk dengan nyaman. Well, ternyata tidak benar-benar nyaman. Saya naik bus ekonomi waktu itu. Penumpang penuh, dan suara mesin menderu tak karuan. Tak ada AC. Hanya bismillah saja yang bisa mengantarkan saya untuk memulai interview, di atas bus yang berjalan itu, selama 40 menit.
Ya, dengan selesainya interview itu, saya hanya bisa pasrah menunggu hasil.
Di Palembang, saya mengikuti tes beasiswa ke Malaysia. Saya lulus sampai hanya sampai tahap 2, yang isinya penilaian diskusi dan tes psikologi.
Setelah itu, melanconglah saya ke beberapa kota, dengan kendaraan darat dan laut. Trip pertama saya adalah ke President University. Tes di sini mengesankan, karena tempatnya bagus, dan pesertanya (bahkan yang ikut tes beasiswa) berpenampilan mewah. Well, mungkin perasaan saya saja. Saya diterima beasiswa kategori dua, yakni kuliah full dengan dengan 'hanya' membayar Rp. 60 jt rupiah.
Selanjutnya, ke Yogyakarta. Saya ditemani dengan beberapa teman saya di sana. Ada satu teman saya yang baik sekali memberikan akomodasi selama saya di sana (transportasi, penginapan). Anda bisa kunjungi link ini : Abetia Fitriani
Di sana, saya melakukan tes untuk Metrologi ITB, dan Universitas Teknologi Yogyakarta. Alhamdulillah, saya lulus Metrologi ITB, sayangnya setelah dipikirkan baik-baik, saya tidak mengambilnya karena besarnya biaya hidup di Bandung.
Saya sempat mengunjungi kota kelahiran saya di Solo, Jawa Tengah. Saya tidak pernah ke sana semenjak tahun 2006. Kota itu telah banyak berubah. Senang sekali rasanya bisa mengingat masa kecil saya ketika tinggal di situ, masa kecil yang indah.
Tanggal 17 Juli, pengumuman SNMPTN keluar. Saya diterima di Teknik Informatika Universitas Bengkulu, dan kemudian memutuskan untuk daftar ulang di sana.
Ternyata, tanggal 31 Juli, saya dinyatakan diterima di Universitas Paramadina. Sujud syukur langsung saya lakukan. Alhamdulillah, senang sekali impian atas pilihan utama saya menjadi kenyataan.
Tanggal 15 September 2010, saya meninggalkan Bengkulu untuk melanjutkan kuliah saya ini.
Di atas pesawat, di dalam hati, saya menggumamkan beberapa patah kata ini :
"
perjalanan ini adalah perjalanan yang berat..
perjalanan berat yang diiringi air mata ibu, ayah, dan adik tercinta
perjalanan berat yang membuat aku harus berbohong tegar, meninggalkan keluarga tercinta, walau hati menangis terluka
perjalanan berat yang harus kutempuh setelah melewati banyak cobaan..
namun, sesulit apapun nanti, akan kutempuh
demi mereka yang kucintai, tulus di dalam hati..
Ya ALLAH, iringilah jalan hamba..
Jagalah mereka ya ALLAH, karena kini doa hamba saja yang bisa menjangkau mereka
Lindungilah mereka, karena kini hamba tak bisa mencurahkan jiwa dan raga hamba untuk melindungi mereka
Kabulkanlah ya ALLAH...
"
Tanggal 16 September 2010, saya untuk pertama kalinya masuk ke Universitas Paramadina. Universitas Paramadina terletak di Jakarta Selatan, dekat sekali dengan patung pancoran yang sedang berpose menunjuk ke arah utara. Hanya sekitar 500 meter dari situ, menurut rambu lalu lintas.
Kini, saya tinggal di asrama bersama 23 teman saya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia: dari Aceh, sampai yang terjauh di Makassar. Kepribadian mereka yang unik membuat hidup ini menjadi semakin bermakna.
Sayang, saya kurang amanah memandang keberuntungan ini, sehingga hasil belajar saya kurang maksimal di sini. Kini, saya harus berjuang menghadapi UAS tanggal 10 Januari, untuk memperbaiki nilai saya yang terlanjur terbanting karena manajemen waktu yang sangat buruk.
Tahun 2010 begitu berkesan, maka seharusnya demikian juga tahun 2011. Perjuangan akan dimulai kembali, perjuangan untuk menentukan masa depan.
Dengan berakhirnya tahun 2010, maka tertutuplah kesempatan untuk mendapatkan kembali waktu-waktu yang telah terlewati. Kini, penyesalan atau kegembiraan kedepan, ditentukan mulai dari sekarang, di awal tahun yang gegap gempita ini.
Selamat Tahun Baru 2011. Mari berusaha untuk menjadi lebih baik :)
Mengingat berada di akhir tahun, rasanya ingin sekali mengingat semua perjuangan yang telah terjadi di tahun ini.
Tahun ini adalah akhir dari era abu-abu. Ya, era SMA yang menyenangkan. Setelah berkutat dengan kertas ujian selama satu minggu, sekolah yang tercinta pun mulai ditinggalkan. Sekitar bulan Maret yang lalu, saya mulai berjuang keras, mencari kuliah untuk melanjutkan studi saya.
![]() |
| Teman-teman abu-abu saya :) |
Studi saya, dibatasi oleh kendala finansial. I was not only just thinking about how to pass the enrollment test, but also about how to avoid the cost. Saya anak pertama, saya penopang punggung keluarga, kurang dari 5 tahun ke depan.
Berangkat dengan segala keterbatasan biaya, dan dengan impian bisa melanjutkan studi, saya mencari universitas-universitas untuk didaftari. Saya mengikuti beberapa program beasiswa di beberapa universitas seperti Universitas Paramadina, President University, dan Universitas Teknologi Yogyakarta. Selain itu, saya juga mengikuti program beasiswa D3 Metrologi ITB, yakni beasiswa penuh untuk belajar (tanpa living cost) yang diselenggarakan oleh ITB dan Departemen Perdagangan. Selain itu, saya juga mengikuti program beasiswa ke Malaysia yang diselenggarakan Bank CIMB Niaga, serta program beasiswa ke Jepang, Monbukagakusho.
Dan tidak lupa, mengandalkan SNMPTN untuk mengejar Teknik Informatika Universitas Bengkulu.
Ujian dilaksanakan di berbagai kota. Menyenangkan juga, bepergian ke luar kota sendiri, dan tidak ke satu kota saja. Pengalaman indah sekali.
Dari seluruh universitas yang saya daftari, yang paling saya harapkan adalah Universitas Paramadina. Mengapa? Karena program beasiswanya yang sangat komprehensif.
Paramadina, lewat program Paramadina Fellowship menerima sampai 100 orang mahasiswa yang akan dibiayai penuh, dari biaya sekolah sampai biaya hidup. Selain itu, juga akan diberi koneksi ke berbagai macam link yang tersedia di Jakarta, baik dari korporat, maupun lainnya.
Dana beasiswa berasal dari donor yang berasal dari tokoh-tokoh wirausahawan dan korporat yang namanya besar. Setiap mahasiswa yang diterima akan memiliki donor sendiri yang tidak hanya memberikan dukungan finansial, namun juga dukungan moral untuk pengembangan diri.
Kuliah dijatah hanya selama 3.5 tahun, dan itu sangat memacu sekali. Universitas ini kecil dan unik, dan dikepalai oleh seorang yang terkenal di bidang pendidikan, Bapak Anies Baswedan, Ph. D., seseorang yang juga merupakan tokoh idola saya.
Bagaimana proses seleksinya? Pendaftar mengirimkan berkas untuk diseleksi dan kemudian yang lolos akan di-interview.
Alhamdulillah, saya lolos tahap seleksi berkas dan berhak mengikuti interview. Ada cerita menarik saat interview ini.
Saya mendapatkan giliran interview via phone dan diberi giliran antara pukul 9 sampai 12 siang, menurut pemberitahuan. Kebetulan pada hari itu, siang harinya saya harus berangkat ke Palembang, untuk mengikuti seleksi program beasiswa ke Malaysia yang diselenggarakan Bank CIMB Niaga.
Saya resah sekali dalam rentang waktu 3 jam itu. Kamar saya tutup dan handphone saya pegang erat-erat. Lama sekali rasanya waktu itu, dan akhirnya sampai pukul 12 saya tidak ditelepon sama sekali.
Walau bingung, saya tidak bisa berbuat apa-apa. "Barangkali besok..." pikiran saya waktu itu. Ternyata tidak.
Saat saya sedang di jalan menuju pool bus Putra Rafflesia, yang akan mengantarkan saya ke Palembang, masuklah telepon dengan 3 nomor awal 021. Ya ampun, ini pasti dari Paramadina, dan ternyata: benar.
Saya sedang di angkot waktu itu, dan akhirnya saya minta dispensasi 20 menit sebelum memulai interview agar saya bisa duduk dengan nyaman. Well, ternyata tidak benar-benar nyaman. Saya naik bus ekonomi waktu itu. Penumpang penuh, dan suara mesin menderu tak karuan. Tak ada AC. Hanya bismillah saja yang bisa mengantarkan saya untuk memulai interview, di atas bus yang berjalan itu, selama 40 menit.
Ya, dengan selesainya interview itu, saya hanya bisa pasrah menunggu hasil.
Di Palembang, saya mengikuti tes beasiswa ke Malaysia. Saya lulus sampai hanya sampai tahap 2, yang isinya penilaian diskusi dan tes psikologi.
Setelah itu, melanconglah saya ke beberapa kota, dengan kendaraan darat dan laut. Trip pertama saya adalah ke President University. Tes di sini mengesankan, karena tempatnya bagus, dan pesertanya (bahkan yang ikut tes beasiswa) berpenampilan mewah. Well, mungkin perasaan saya saja. Saya diterima beasiswa kategori dua, yakni kuliah full dengan dengan 'hanya' membayar Rp. 60 jt rupiah.
![]() |
| Dokumentasi di depan Taman Pintar Yogyakarta |
Selanjutnya, ke Yogyakarta. Saya ditemani dengan beberapa teman saya di sana. Ada satu teman saya yang baik sekali memberikan akomodasi selama saya di sana (transportasi, penginapan). Anda bisa kunjungi link ini : Abetia Fitriani
Di sana, saya melakukan tes untuk Metrologi ITB, dan Universitas Teknologi Yogyakarta. Alhamdulillah, saya lulus Metrologi ITB, sayangnya setelah dipikirkan baik-baik, saya tidak mengambilnya karena besarnya biaya hidup di Bandung.
Saya sempat mengunjungi kota kelahiran saya di Solo, Jawa Tengah. Saya tidak pernah ke sana semenjak tahun 2006. Kota itu telah banyak berubah. Senang sekali rasanya bisa mengingat masa kecil saya ketika tinggal di situ, masa kecil yang indah.
Tanggal 17 Juli, pengumuman SNMPTN keluar. Saya diterima di Teknik Informatika Universitas Bengkulu, dan kemudian memutuskan untuk daftar ulang di sana.
![]() |
| Bersama keluarga tercinta di rumah eyang di Solo |
Ternyata, tanggal 31 Juli, saya dinyatakan diterima di Universitas Paramadina. Sujud syukur langsung saya lakukan. Alhamdulillah, senang sekali impian atas pilihan utama saya menjadi kenyataan.
Tanggal 15 September 2010, saya meninggalkan Bengkulu untuk melanjutkan kuliah saya ini.
Di atas pesawat, di dalam hati, saya menggumamkan beberapa patah kata ini :
"
perjalanan ini adalah perjalanan yang berat..
perjalanan berat yang diiringi air mata ibu, ayah, dan adik tercinta
perjalanan berat yang membuat aku harus berbohong tegar, meninggalkan keluarga tercinta, walau hati menangis terluka
perjalanan berat yang harus kutempuh setelah melewati banyak cobaan..
namun, sesulit apapun nanti, akan kutempuh
demi mereka yang kucintai, tulus di dalam hati..
Ya ALLAH, iringilah jalan hamba..
Jagalah mereka ya ALLAH, karena kini doa hamba saja yang bisa menjangkau mereka
Lindungilah mereka, karena kini hamba tak bisa mencurahkan jiwa dan raga hamba untuk melindungi mereka
Kabulkanlah ya ALLAH...
"
Tanggal 16 September 2010, saya untuk pertama kalinya masuk ke Universitas Paramadina. Universitas Paramadina terletak di Jakarta Selatan, dekat sekali dengan patung pancoran yang sedang berpose menunjuk ke arah utara. Hanya sekitar 500 meter dari situ, menurut rambu lalu lintas.
Kini, saya tinggal di asrama bersama 23 teman saya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia: dari Aceh, sampai yang terjauh di Makassar. Kepribadian mereka yang unik membuat hidup ini menjadi semakin bermakna.
![]() |
| Bersama teman-teman Fellows Paramadina 2010 |
Sayang, saya kurang amanah memandang keberuntungan ini, sehingga hasil belajar saya kurang maksimal di sini. Kini, saya harus berjuang menghadapi UAS tanggal 10 Januari, untuk memperbaiki nilai saya yang terlanjur terbanting karena manajemen waktu yang sangat buruk.
Tahun 2010 begitu berkesan, maka seharusnya demikian juga tahun 2011. Perjuangan akan dimulai kembali, perjuangan untuk menentukan masa depan.
Dengan berakhirnya tahun 2010, maka tertutuplah kesempatan untuk mendapatkan kembali waktu-waktu yang telah terlewati. Kini, penyesalan atau kegembiraan kedepan, ditentukan mulai dari sekarang, di awal tahun yang gegap gempita ini.
Selamat Tahun Baru 2011. Mari berusaha untuk menjadi lebih baik :)
Dengan tulisan ini, saya berharap baik saya ataupun pembaca bisa mengurangi kebiasaan buruk ini atau setidaknya bersiap-siap untuk hal buruk seperti yang telah saya alami...
Sekitar 2 minggu yang lalu, saya diberikan tugas (oleh dosen saya tentunya) basis data. Jadi, kami disuruh untuk membuat aplikasi dengan menggunakan Microsoft Access 2007.
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya suka menunda-nunda waktu, sehingga pekerjaan ini terbengkalai. Ada saatnya ketika saya ingin mengerjakan, namun hanya sedikit yang saya kerjakan. Pada akhirnya, semuanya tetap menumpuk... huff
Finalnya, kemaren. Saya baru sampai rumah sekitar pukul 16 sore, dan itupun tidak langsung mengerjakan. Bayangan saya, "Ah, ini paling sebentar juga beres.." dan ternyata TIDAK sama sekali.
Ternyata tidak baik menggampangkan pekerjaan.
Proyek ini baru selesai sekitar 04.32 pagi hari, setelah adzan subuh berkumandang. Saya mengerjakannya semalaman dengan diiringi cicitan tikus dan suara dengkur teman-teman yang sedang tidur pulas. Ya ampun, saya pengen tidur juga...
Dan akhirnya, selesailah, dan tinggal melakukan pencetakan terhadap dokumen pendukung aplikasi.
Tugas tersebut adalah laporan akhir untuk Nilai UAS, dan hari ini adalah deadline-nya. Di dekat rumah ada warnet tempat nge-print, dan ketika saya ke sana... oh my God!!
Warnetnya TUTUP! Padahal saya nggak tahu lagi itu harus di-print di mana. Bagaimana ini?
Oh ya, kakak kelas saya ada yang punya printer. Segera saya telepon kakak itu berkali-kali sekitar pukul 04.45 pagi sampai pukul 06.20, dan hasilnya... tidak diangkaaat.
Kemana lagi ini? Habislah kami kalau tidak di-print.
Sekitar pukul setengah 7, teman saya bilang, "di dekat sono ada warnet tu, biasanya pagi buka". Sebuah harapan hadir di depan mata, dan dengan tenaga penuh mengayuh sepeda pagi-pagi, saya berangkat ke sana.
Sampai di sana, alhamdulillah. Ada kakek-kakek yang menjaga pagi itu, dan ada printernya.. huff..
Akhirnya, di-printlah dokumen itu, sebanyak 18 lembar. Ketika menghitung harga, ternyata: Rp45.500! Wak, biasanya berwarna sekalipun hanya 1000 - 2000 rupiah per lembar.
Dokumen sudah dicetak, tidak mungkin dikembalikan. Tidak ada pilihan, saya bayar saja.
Presentasi pun tiba, dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Banyak cacat di sana sini. Ya Tuhan...
Ini pengalaman berharga sekali. Apa saja yang hilang dari saya karena kebiasaan ini?
Mari hindari kemalasan, hindari kemalasan, hindari kemalasan! Semangat semuanya!!
Sekitar 2 minggu yang lalu, saya diberikan tugas (oleh dosen saya tentunya) basis data. Jadi, kami disuruh untuk membuat aplikasi dengan menggunakan Microsoft Access 2007.
Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya suka menunda-nunda waktu, sehingga pekerjaan ini terbengkalai. Ada saatnya ketika saya ingin mengerjakan, namun hanya sedikit yang saya kerjakan. Pada akhirnya, semuanya tetap menumpuk... huff
Finalnya, kemaren. Saya baru sampai rumah sekitar pukul 16 sore, dan itupun tidak langsung mengerjakan. Bayangan saya, "Ah, ini paling sebentar juga beres.." dan ternyata TIDAK sama sekali.
Ternyata tidak baik menggampangkan pekerjaan.
Proyek ini baru selesai sekitar 04.32 pagi hari, setelah adzan subuh berkumandang. Saya mengerjakannya semalaman dengan diiringi cicitan tikus dan suara dengkur teman-teman yang sedang tidur pulas. Ya ampun, saya pengen tidur juga...
Dan akhirnya, selesailah, dan tinggal melakukan pencetakan terhadap dokumen pendukung aplikasi.
Tugas tersebut adalah laporan akhir untuk Nilai UAS, dan hari ini adalah deadline-nya. Di dekat rumah ada warnet tempat nge-print, dan ketika saya ke sana... oh my God!!
Warnetnya TUTUP! Padahal saya nggak tahu lagi itu harus di-print di mana. Bagaimana ini?
Oh ya, kakak kelas saya ada yang punya printer. Segera saya telepon kakak itu berkali-kali sekitar pukul 04.45 pagi sampai pukul 06.20, dan hasilnya... tidak diangkaaat.
Kemana lagi ini? Habislah kami kalau tidak di-print.
Sekitar pukul setengah 7, teman saya bilang, "di dekat sono ada warnet tu, biasanya pagi buka". Sebuah harapan hadir di depan mata, dan dengan tenaga penuh mengayuh sepeda pagi-pagi, saya berangkat ke sana.
Sampai di sana, alhamdulillah. Ada kakek-kakek yang menjaga pagi itu, dan ada printernya.. huff..
Akhirnya, di-printlah dokumen itu, sebanyak 18 lembar. Ketika menghitung harga, ternyata: Rp45.500! Wak, biasanya berwarna sekalipun hanya 1000 - 2000 rupiah per lembar.
Dokumen sudah dicetak, tidak mungkin dikembalikan. Tidak ada pilihan, saya bayar saja.
Presentasi pun tiba, dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Banyak cacat di sana sini. Ya Tuhan...
Ini pengalaman berharga sekali. Apa saja yang hilang dari saya karena kebiasaan ini?
- Uang!! Ngeprint 18 halaman nyaris 50 ribu! Ya ampun!
- Waktu istirahat (saya tidak tidur semalaman hari rabu)
- Nilai yang baik, tidak mungkin mendapatkan sesuatu yang luar biasa kalau kita mengerjakannya biasa-biasa saja.
- Kesempatan untuk belajar, kebetulan paginya ada kuis di kelas, oh tidaak..
Mari hindari kemalasan, hindari kemalasan, hindari kemalasan! Semangat semuanya!!
"Arrrrgghhh...."
Suara frustasi itu akan datang lewat tengah malam ketika hari itu ada suatu tugas yang harus dikumpul dan belum selesai...
Barulah kemudian otak kembali berpikir, "Kok aku gak ngerjainnya kemaren ya?"
Well, saudara-saudara. Ini adalah penyakit yang paling gawat: membuang-buang waktu. Setiap hari rasanya pasti kurang evaluasi tentang rincian alokasi waktu yang telah kita pakai. Apa yang kita kerjakan di hari-hari lalu? Apa yang kita dapatkan? Apa yang harusnya lebih dahulu dikerjakan?
Satu-satunya power yang selalu dipakai orang mungkin adalah power yang ini : "The Power of Kepepet"
Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk menuntaskan tugas. Hanya saja, alokasi waktu yang ada itu sering terbuang untuk tidur-tiduran, ngobrol-ngobrol gak jelas, buka facebook di kampus, dan sebagainya. Dua puluh empat jam sehari itu cukup untuk ngapa-ngapain. Hanya saja, seringnya 24 jam itu benar-benar dipakai saat H-1 sebelum deadline tugas.
Sampai sekarang, ini adalah penyakit utama saya: suka menunda-nunda pekerjaan.
Kalau dipikir-pikir, masalahnya sebenarnya adalah satu, yaitu tentang hasrat untuk memulai. Once it has started, everything will flow.
Mungkin artikel yang ini bisa membantu http://guinandra.wordpress.com/2010/11/26/thoughts-on-combating-laziness-with-cameliapd/
Mari semuanya, berusaha perangi kemalasan, dan gunakan 24 jam sebaik-baiknya. Jangan seperti saya yang sekarang sedang stres karena ditumpuk-tumpuk oleh tugas.
Hufff...
Suara frustasi itu akan datang lewat tengah malam ketika hari itu ada suatu tugas yang harus dikumpul dan belum selesai...
Barulah kemudian otak kembali berpikir, "Kok aku gak ngerjainnya kemaren ya?"
Well, saudara-saudara. Ini adalah penyakit yang paling gawat: membuang-buang waktu. Setiap hari rasanya pasti kurang evaluasi tentang rincian alokasi waktu yang telah kita pakai. Apa yang kita kerjakan di hari-hari lalu? Apa yang kita dapatkan? Apa yang harusnya lebih dahulu dikerjakan?
Satu-satunya power yang selalu dipakai orang mungkin adalah power yang ini : "The Power of Kepepet"
Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk menuntaskan tugas. Hanya saja, alokasi waktu yang ada itu sering terbuang untuk tidur-tiduran, ngobrol-ngobrol gak jelas, buka facebook di kampus, dan sebagainya. Dua puluh empat jam sehari itu cukup untuk ngapa-ngapain. Hanya saja, seringnya 24 jam itu benar-benar dipakai saat H-1 sebelum deadline tugas.
Sampai sekarang, ini adalah penyakit utama saya: suka menunda-nunda pekerjaan.
Kalau dipikir-pikir, masalahnya sebenarnya adalah satu, yaitu tentang hasrat untuk memulai. Once it has started, everything will flow.
Mungkin artikel yang ini bisa membantu http://guinandra.wordpress.com/2010/11/26/thoughts-on-combating-laziness-with-cameliapd/
Mari semuanya, berusaha perangi kemalasan, dan gunakan 24 jam sebaik-baiknya. Jangan seperti saya yang sekarang sedang stres karena ditumpuk-tumpuk oleh tugas.
Hufff...
Sunday, December 19, 2010
1 comments
Kuesioner untuk Requirements Gathering - Tugas Web Design I Universitas Paramadina
Teman-teman dan pengunjung yang saya hormati, bantulah saya untuk mengisi kuesioner yang beralamatkan di bawah ini:
http://imamhidayatlab.host56.com/kuesioner
Dibutuhkan 50 orang minimal untuk mengisi kuesioner ini agar tugasnya menjadi valid.
Mohon bantuannya semuanya. Terima kasih. :)
http://imamhidayatlab.host56.com/kuesioner
Dibutuhkan 50 orang minimal untuk mengisi kuesioner ini agar tugasnya menjadi valid.
Mohon bantuannya semuanya. Terima kasih. :)
Tahun ini mungkin adalah tahun yang bersejarah bagi Paramadina Choir, sebuah unit kegiatan mahasiswa, tempat para mahasiswa yang punya suara bagus (ehem..) menyalurkan bakatnya.
Ada cerita menarik yang ingin saya bagikan di sini, tentang UKM yang saya ikuti ini.
Tahun ini, Paramadina Choir untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi paduan suara di Universitas Tarumanagara, Jakarta tanggal 24 November kemarin. Latihan dilaksanakan selama 1 bulan, dengan persiapan yang tidak sempurna. Jelas hasilnya dong, kami bahkan tidak masuk final.
Bayangkan, yang kami lakukan hanyalah mencocokkan not dengan partitur lagu, kemudian menyanyikannya tanpa teknik. Kami dilatih oleh pelatih yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Beliau sangat berpengalaman dalam serba-serbi choir. Sayang, waktu yang ada sangat terbatas untuk melatih kami yang masih belum pernah ikut kompetisi.
Saat lomba, ada 2 lagu yang dibawakan yaitu Sepasang Mata Bola, dan Bendera. Kami adalah peserta dengan nomor urut ke-1. Bagaimana penampilannya? Ya, lagu pertama cukup lancar. Lagu kedua? Kami belum sempurna. Ada beberapa bar di partitur, di mana kami, suara tenor dan bass bahkan masih bingung kapan ketukan untuk mulai menyanyi. Alhasil, ya begitulah.
Saat kami ada di bangku penonton, melihat penampilan choir yang lain, malulah kami. Mereka menyanyikannya dengan cara yang sangat berbeda.
Setelah pengalaman pahit itu, beberapa hari kemudian, datanglah ketua choir kami, berkata dengan bangga dan menggebu-gebu: "Padus diundang untuk tampil di acara International Summit!! Membawakan lagu Sepasang Mata Bola, Bendera, dan SikSik Si Batu Manikam..." demikian disebutkan, pada tanggal 8 Desember. Wak, lagu yang sama dengan lomba. Pesan untuk latihan disebarkan lewat message di Facebook, dan acara dimulai tanggal 16 Desember 2010. Delapan hari latihan, untuk acara BESAR!
Ya ampun, bagaimana ceritanya kami diundang di acara sebesar itu? Ternyata, karena rekomendasi Pak Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina.
Bayangkan, apa yang terjadi kalau kami tampil memalukan? Rusaklah nama Universitas Paramadina. Tapi, kami tidak ragu. Kami tetap mengikutinya. Nekat, tapi dengan perhitungan.
Ternyata, hasilnya berubah total. Bermodalkan rekaman-rekaman saat latihan bersama pelatih kami tercinta, ditambah dengan rekaman choir lain saat lomba, jadilah Paramadina Choir dengan model penampilan yang baru, penampilan yang berbeda.
Alhamdulillah, ternyata penampilan kami sama sekali tidak mengecewakan. Lagu terakhir, Sik Sik Si Batu Manikam mendapatkan atensi yang baik dari penonton.
Apa hikmahnya? Ternyata, terkadang butuh 'ancaman' untuk meningkatkan kualitas. Tanpa event ini, kami mungkin akan tetap seperti saat lomba, tidak berkembang. Dan, karena 'ancaman' itulah, dalam waktu singkat, kami bisa memperbaiki diri, meningkatkan kemampuan, dan mengalami kemajuan.
Dengan seragam yang sama, dan lagu yang sama, tetapi dengan kemampuan yang berbeda, Alhamdulillah Paramadina Choir tidak jadi memalukan Universitas Paramadina.
Dan, untuk selanjutnya, Paramadina Choir akan terus berkembang. Ini adalah awalnya, dan hasilnya? Tunggu saja.
Ada cerita menarik yang ingin saya bagikan di sini, tentang UKM yang saya ikuti ini.
Tahun ini, Paramadina Choir untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi paduan suara di Universitas Tarumanagara, Jakarta tanggal 24 November kemarin. Latihan dilaksanakan selama 1 bulan, dengan persiapan yang tidak sempurna. Jelas hasilnya dong, kami bahkan tidak masuk final.
Bayangkan, yang kami lakukan hanyalah mencocokkan not dengan partitur lagu, kemudian menyanyikannya tanpa teknik. Kami dilatih oleh pelatih yang kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Beliau sangat berpengalaman dalam serba-serbi choir. Sayang, waktu yang ada sangat terbatas untuk melatih kami yang masih belum pernah ikut kompetisi.
Saat lomba, ada 2 lagu yang dibawakan yaitu Sepasang Mata Bola, dan Bendera. Kami adalah peserta dengan nomor urut ke-1. Bagaimana penampilannya? Ya, lagu pertama cukup lancar. Lagu kedua? Kami belum sempurna. Ada beberapa bar di partitur, di mana kami, suara tenor dan bass bahkan masih bingung kapan ketukan untuk mulai menyanyi. Alhasil, ya begitulah.
Saat kami ada di bangku penonton, melihat penampilan choir yang lain, malulah kami. Mereka menyanyikannya dengan cara yang sangat berbeda.
Setelah pengalaman pahit itu, beberapa hari kemudian, datanglah ketua choir kami, berkata dengan bangga dan menggebu-gebu: "Padus diundang untuk tampil di acara International Summit!! Membawakan lagu Sepasang Mata Bola, Bendera, dan SikSik Si Batu Manikam..." demikian disebutkan, pada tanggal 8 Desember. Wak, lagu yang sama dengan lomba. Pesan untuk latihan disebarkan lewat message di Facebook, dan acara dimulai tanggal 16 Desember 2010. Delapan hari latihan, untuk acara BESAR!
Ya ampun, bagaimana ceritanya kami diundang di acara sebesar itu? Ternyata, karena rekomendasi Pak Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina.
Bayangkan, apa yang terjadi kalau kami tampil memalukan? Rusaklah nama Universitas Paramadina. Tapi, kami tidak ragu. Kami tetap mengikutinya. Nekat, tapi dengan perhitungan.
![]() |
| Paramadina Choir saat Gladi Resik di Kantor Kemendiknas |
Ternyata, hasilnya berubah total. Bermodalkan rekaman-rekaman saat latihan bersama pelatih kami tercinta, ditambah dengan rekaman choir lain saat lomba, jadilah Paramadina Choir dengan model penampilan yang baru, penampilan yang berbeda.
Alhamdulillah, ternyata penampilan kami sama sekali tidak mengecewakan. Lagu terakhir, Sik Sik Si Batu Manikam mendapatkan atensi yang baik dari penonton.
![]() |
| Penampilan Paramadina Choir Pada Acara International Summit |
Dengan seragam yang sama, dan lagu yang sama, tetapi dengan kemampuan yang berbeda, Alhamdulillah Paramadina Choir tidak jadi memalukan Universitas Paramadina.
Dan, untuk selanjutnya, Paramadina Choir akan terus berkembang. Ini adalah awalnya, dan hasilnya? Tunggu saja.
Mana yang lebih enak disebut? 'Aku'? 'Gue'? atau 'Saya'? Jawabannya rata-rata pasti begini: "tergantung kondisi dong.."
Well, maklum, saya datang dari sebuah kota yang tidak besar di pantai barat Sumatera: Bengkulu, di mana bahasa komunikasinya masih lebih dominan dengan menggunakan bahasa daerah. Di Bengkulu, 'Saya' disebut 'Ambo'. Sesampainya saya di Jakarta, mulailah ada culture shock. Mana yang harus saya pakai?
Akhirnya, saya memutuskan untuk menggunakan 'aku', bukan 'gue' di sini.... kenapa? hem, kenapa ya?
Entahlah, saya tidak suka menggunakan 'gue' karena terasa tidak nyaman. Lagipula, bahasa saya lebih mengarah ke Bahasa Indonesia formal dibanding ke yang lain-lain. Bahasa mencerminkan kepribadian orangnya, dan sepertinya, memang saya tidak cocok menggunakan 'gue'.
Kembali tentang bahasa daerah, saya melihat beberapa fenomena. Sepertinya Bahasa Sunda sangat membahana di sini. 'eta', 'sia' dll. Ini mungkin sesuatu yang lumrah kali ya. Jakarta dekat dengan Jawa Barat, dan yang terdekatlah yang akan mempengaruhi. Tapi, tunggu dulu.
Saya jujur tidak pernah mendengar Bahasa Betawi dikatakan langsung oleh orang betawi. Apakah Betawi == Jakarta? Rasanya ya. Kata-kata seperti 'Aye', 'Nyak', itu hanya pernah saya dengar di film seperti "Si Doel" dan yang lainnya. Tidak pernah terdengar dipakai.
Bahasa Jawa juga, cukup dominan di sini, dan sepertinya memang bahasa ini memang memegang pengaruh yang besar. Mungkin hampir seluruh Indonesia bisa menirukan logat jawa dengan huruf 'd', 'j', dan 'b' nya yang khas.
Ah, bahasa kadang-kadang lebih rumit dari matematika.
Penting tidak sih? Ah, ya sudahlah...
Well, maklum, saya datang dari sebuah kota yang tidak besar di pantai barat Sumatera: Bengkulu, di mana bahasa komunikasinya masih lebih dominan dengan menggunakan bahasa daerah. Di Bengkulu, 'Saya' disebut 'Ambo'. Sesampainya saya di Jakarta, mulailah ada culture shock. Mana yang harus saya pakai?
Akhirnya, saya memutuskan untuk menggunakan 'aku', bukan 'gue' di sini.... kenapa? hem, kenapa ya?
Entahlah, saya tidak suka menggunakan 'gue' karena terasa tidak nyaman. Lagipula, bahasa saya lebih mengarah ke Bahasa Indonesia formal dibanding ke yang lain-lain. Bahasa mencerminkan kepribadian orangnya, dan sepertinya, memang saya tidak cocok menggunakan 'gue'.
Kembali tentang bahasa daerah, saya melihat beberapa fenomena. Sepertinya Bahasa Sunda sangat membahana di sini. 'eta', 'sia' dll. Ini mungkin sesuatu yang lumrah kali ya. Jakarta dekat dengan Jawa Barat, dan yang terdekatlah yang akan mempengaruhi. Tapi, tunggu dulu.
Saya jujur tidak pernah mendengar Bahasa Betawi dikatakan langsung oleh orang betawi. Apakah Betawi == Jakarta? Rasanya ya. Kata-kata seperti 'Aye', 'Nyak', itu hanya pernah saya dengar di film seperti "Si Doel" dan yang lainnya. Tidak pernah terdengar dipakai.
Bahasa Jawa juga, cukup dominan di sini, dan sepertinya memang bahasa ini memang memegang pengaruh yang besar. Mungkin hampir seluruh Indonesia bisa menirukan logat jawa dengan huruf 'd', 'j', dan 'b' nya yang khas.
Ah, bahasa kadang-kadang lebih rumit dari matematika.
Penting tidak sih? Ah, ya sudahlah...
Subscribe to:
Posts (Atom)








- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact