Selalu saja, kecenderungan untuk mencari excuse itu muncul. Otak sangat pintar sekali mencari alasan untuk membenarkan kesalahan yang kau lakukan. Iya memang, mengakui kesalahan di diri sendiri sangat sulit. Mencoba meresapi rasa bersalah memang bukan perasaan yang menyenangkan.
Pembenaran pembenaran itu datang, kadang tanpa melihat realita yang ada. Perspektif yang dicari tentu saja perspektif yang paling sedikit menunjukkan kesalahan di diri sang pembuat kesalahan.
Terus saja, terus saja seperti itu. Pembenaran bukan kebenaran. Sedangkan sesuatu yang bukan kebenaran tidak mungkin berakhir baik. Siap-siap saja untuk menanggung semua itu.
"Bayi di dalam kandungan pasti akan memakan waktu 9 bulan. Kamu tidak bisa membuat bayi segera lahir setelah 1 bulan saja dengan menghamili 9 wanita."
Quote yang aneh di atas itu benar juga. -_-
Ada beberapa hal yang memang membutuhkan waktu untuk diwujudkan. Salah satu kelemahannya manusia ya ini: ingin semuanya serba instan. Tentu saja tidak bisa.
Ada kalanya manusia butuh untuk menginkubasikan diri dalam rangka latihan, berpikir, atau merenung, sehingga semakin expert di bidang yang ingin ditekuni. Tentu saja berpikir dan merenungnya yang produktif dan di-follow up dengan action. Percuma saja kalau rencana-rencana yang telah ditetapkan tidak dijalankan. Akan lebih baik juga setelah dilaksanakan juga di-review supaya tahu progress-nya.
Jangka waktu inkubasi itu beragam. Tiap manusia berbeda-beda dalam mencapai 1 level tertentu. Terkadang ada yang butuh waktu lama, tetapi ada juga yang tidak terlalu lama. Namun bagaimanapun, tetap saja, semuanya butuh waktu.
Memaksa sesuatu yang seharusnya diinkubasikan dulu supaya cepat selesai akan membawa bahaya. Bayangkan saja bayi yang belum 9 bulan dipaksa lahir. Seperti itu pula, ada hal yang harus dilakukan dan itu butuh waktu.
Asal teguh/istiqamah saja, sesuatu yang butuh waktu itu akan berbuah manis seharusnya. Tinggal tawakkal saja sebelum menginkubasikan diri. Jangan sampai lupa.
Quote yang aneh di atas itu benar juga. -_-
Ada beberapa hal yang memang membutuhkan waktu untuk diwujudkan. Salah satu kelemahannya manusia ya ini: ingin semuanya serba instan. Tentu saja tidak bisa.
Ada kalanya manusia butuh untuk menginkubasikan diri dalam rangka latihan, berpikir, atau merenung, sehingga semakin expert di bidang yang ingin ditekuni. Tentu saja berpikir dan merenungnya yang produktif dan di-follow up dengan action. Percuma saja kalau rencana-rencana yang telah ditetapkan tidak dijalankan. Akan lebih baik juga setelah dilaksanakan juga di-review supaya tahu progress-nya.
Jangka waktu inkubasi itu beragam. Tiap manusia berbeda-beda dalam mencapai 1 level tertentu. Terkadang ada yang butuh waktu lama, tetapi ada juga yang tidak terlalu lama. Namun bagaimanapun, tetap saja, semuanya butuh waktu.
Memaksa sesuatu yang seharusnya diinkubasikan dulu supaya cepat selesai akan membawa bahaya. Bayangkan saja bayi yang belum 9 bulan dipaksa lahir. Seperti itu pula, ada hal yang harus dilakukan dan itu butuh waktu.
Asal teguh/istiqamah saja, sesuatu yang butuh waktu itu akan berbuah manis seharusnya. Tinggal tawakkal saja sebelum menginkubasikan diri. Jangan sampai lupa.
Kalau katanya Steve Jobs, "You can't connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards." Connecting the dot yang dimaksud mendiang Steve Jobs itu tentu saja adalah tentang menghubungkan kejadian-kejadian (dots) yang menimpa diri kita di masa lalu.
Terkadang kita sedih sekali ketika dianugerahi kegagalan, padahal tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika ternyata kita diberikan kesuksesan. Mana tahu jika ternyata rasa yang ada setelah beberapa waktu ketika menerima kesuksesan itu lebih sakit lagi daripada ketika kita gagal saat ini.
Mungkin berprasangka baik pada Allah adalah jalan terbaik. Semua di dalam hidup ini misteri. Namun begitu, masih ada rangkaian ikhtiar yang bisa dilakukan, sembari meningkatkan kapabilitas diri supaya Allah menuntaskan ujian kita saat ini dan memberikan ujian lanjutan lagi sebagai bukti keimanan.
Bismillah..
Perasaan cinta itu barangkali seperti gula,
dan waktu itu adalah air. Sedangkan, hidup adalah bejana.
Pada awalnya, akan ada sejumlah gula di dasar bejana.
Bejana itu kemudian akan diisi air, terus, terus dan terus.
Pada awalnya, tentu saja air itu akan manis, karena ada gula larut di dalamnya.
Namun seiring dengan dituangkannya air, terus, terus, dan terus mengisi bejana, kadar kemanisannya akan berkurang.
Tetapi itu tergantung, tergantung apakah akan ada butir-butir gula lagi yang juga ikut dituangkan ke dalam bejana tersebut setelahnya.
Pada suatu saat, air itu akan penuh mengisi bejana. Maka saat itulah, tidak mungkin ada gula lagi, ataupun tambahan zat apapun ke dalam bejana, karena airnya pasti akan tumpah.
Mungkin seperti itu pula hidup.
Perasaan cinta di awal pertemuan adalah sesuatu yang besar dan membuncah-buncah.
Namun seiring berjalannya waktu, perasaan cinta bisa pudar jika tidak terawat.
Karena itulah, menjaga perasaan cinta merupakan sesuatu yang harus dilakukan dengan teguh. Tanpa keteguhan memeliharanya, suatu saat cinta itu larut dengan waktu.
Sedangkan, hidup itu ada batas waktunya. Saat kematian datang, semua perasaan yang ada akan berubah menjadi kenangan saja.
Waktu mungkin akan tetap bergulir, tetapi hidup tidak selamanya bergulir. Saat itu tiba, entahlah, apakah Tuhan akan mengizinkan butir-butir gula itu bersemi lagi nanti di hari yang abadi.
Jika ia bersemi lagi nanti, tentu saja berarti, perasaan cinta itu diridhoi olehNya.
-- {o} --
Tidak hanya gula yang dituangkan ke bejana. Kadang ada garam, kadang ada pasir atau batu, yang membuat air itu keruh.
Namun walau keruh, air itu tetap manis jika ada cukup gula.
Aku belum pernah merasakan butiran gula yang abadi. Tapi aku tahu, ada butiran gula yang selalu murni dan secara teguh dituangkan mengisi bejana.
Cinta yang ibarat gula murni itu adalah cinta ayah dan ibuku.
Dosa dan salahku pada mereka tak terkira jumlahnya, tetapi sampai saat ini, merekalah yang selalu ada disaat tak ada cinta lain yang aku rasakan.
Lalu, ada gula yang lain lagi, yang seolah bentuknya cair, bening, dan larut dengan air.
Cinta yang ibarat gula cair itu adalah cintaNya.
"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?"
Dosaku padaNya sudah demikian menggunung.. Namun rahmatNya demikian luas.
Setiap sel-sel tubuh ini tetap hidup karena ada cintaNya. Bumi yang indah beserta isinya, ada karena cintaNya.
CintaNya mengalir seiring berjalannya waktu, bahkan karena seringnya, manusia lupa ada cintaNya.
Padahal tiap detik, nafas ini mungkin tak ada jika tak ada nikmat dariNya.
Rabbighfirli,
wa liwaa lidayya,
warhamhuma kamaa rabbayaani saghiiraan.
![]() |
| Paramadina Choir |
Ini H-2, Unit Kegiatan Mahasiswa Paramadina Choir akan mengadakan Pre-Competition Concert bertajuk "Bersama Merajut Nada, Jalan Meraih Mimpi" Senin nanti. Persis 8 hari setelah Senin nanti, tim Paramadina Choir akan berangkat ke 3rd Vietnam International Choir Competition di Kota Hoi An, Vietnam.
Euphoria-nya terasa sekali. Mudah-mudahan semuanya lancar sampai keberangkatan dan kepulangan mereka nanti. Semoga ada sesuatu yang dibawa tim Paramadina Choir dari sana. :)
Kalau dipikir-pikir, apa yang membuat seorang mahasiswa bisa bangun setiap pagi untuk kemudian duduk berjam-jam di kelas dan mengerjakan banyak tugas yang menumpuk? Apa yang membuat seorang pegawai kantoran bangun pagi dan pergi ke kantor untuk mengerjakan begitu banyak perintah dari pimpinannya? Apa yang menyebabkan seorang ibu-ibu tua pagi-pagi bangun menjajakan barang dagangannya di pasar?
Tentu karena ada suatu motivasi. Ada sesuatu yang ingin seseorang capai dengan menjalankan suatu rentetan kegiatan-kegiatan itu. Setiap orang yang belajar, barangkali punya keinginan untuk menjadi seseorang yang pintar di kemudian hari. Setiap orang yang bekerja, barangkali punya keinginan untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai keluarganya. Jauh sebelum kegiatan-kegiatan itu dimulai, pasti ada suatu pemikiran yang terlintas, berkecamuk, dan kemudian melahirkan gagasan untuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk menuntaskan pikiran-pikiran itu..
Motivasi barangkali adalah sumber energi untuk setiap kegiatan itu. Setiap kali seseorang melakukan kegiatan, motivasi akan memperkuat langkah untuk mengerjakan segala sesuatunya. Motivasilah yang menggerakkan tubuh dan memberikan sugesti.
Namun, salah satu common fact yang menarik adalah: motivasi hanya kuat di awal saja.
Kalau motivasi dianalogikan di dunia nyata, mungkin motivasi itu adalah baterai. Saat baru dibeli, baterai itu terisi penuh dengan energi. Ketika energinya dipakai di berbagai macam perangkat, lama-lama total energinya akan berkurang, dan dalam keadaan tertentu akan habis dan tidak bisa dipakai.
Jika ingin baterai tetap bisa dipakai, maka secara berkala sebelum benar-benar habis, baterai itu harus di recharge. Energinya harus diisi agar kembali penuh. Dengan demikian, baterai tersebut bisa digunakan untuk perangkat lainnya lagi, menjalankan aktifitas yang ada.
Salah satu hal yang lumrah dari manusia adalah derajat kekuatan imannya yang fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, kekuatan iman naik dan turun seiring dengan berkurangnya umur. Perilaku serupa juga nampak di derajat kekuatan cinta seseorang terhadap sesuatu, dan juga nampak di derajat kekuatan motivasi seseorang.
Menjaga motivasi merupakan hal yang harus selalu dilakukan untuk menjaga semangat yang ada untuk melaksanakan aktifitas setiap hari. Maka dari itu, tiap mengerjakan sesuatu dan kita mulai malas, barangkali salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengingat kembali tujuan awal.
Pertanyaan sederhana: "Untuk apa diri kita berjalan sejauh ini?"
Posisi yang kita dapatkan saat ini, merupakan akumulasi dari begitu banyak pengorbanan yang telah terjadi sebelumnya. Pengorbanan-pengorbanan itu tidak selalu dari diri kita sendiri. Ada banyak pengorbanan orang lain yang kemudian mengantarkan pada diri kita di posisi ini saat ini.
Paling tidak, untuk dapat berdiri tegak di posisi kita saat ini, ada pengorbanan orang-orang yang telah merawat kita sejak di dalam kandungan, hingga kemudian lahir, hingga kemudian bersekolah, dan hingga dewasa.. Ada perjuangan besar orang lain di dalam diri kita. Kita hidup dari perjuangan itu.
Lalu, akan kita tebus dengan apa pengorbanan-pengorbanan itu?
Pada intinya, everything running at cost. Segala sesuatu berjalan dengan suatu harga yang harus ditebus. Tidak mesti selalu uang. Paling tidak, waktu adalah harga yang harus selalu kita tebus. Kita tak selamanya hidup di dunia yang fana ini bukan? Suatu hari jatah waktu kita akan habis, dan jatah waktu itu bukan milik kita. Kita akan bertanggungjawab pada pemiliknya, pencipta alam semesta.
"... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali-’Imran: 159)
Tentu karena ada suatu motivasi. Ada sesuatu yang ingin seseorang capai dengan menjalankan suatu rentetan kegiatan-kegiatan itu. Setiap orang yang belajar, barangkali punya keinginan untuk menjadi seseorang yang pintar di kemudian hari. Setiap orang yang bekerja, barangkali punya keinginan untuk mendapatkan uang agar bisa membiayai keluarganya. Jauh sebelum kegiatan-kegiatan itu dimulai, pasti ada suatu pemikiran yang terlintas, berkecamuk, dan kemudian melahirkan gagasan untuk melakukan berbagai macam kegiatan untuk menuntaskan pikiran-pikiran itu..
Motivasi barangkali adalah sumber energi untuk setiap kegiatan itu. Setiap kali seseorang melakukan kegiatan, motivasi akan memperkuat langkah untuk mengerjakan segala sesuatunya. Motivasilah yang menggerakkan tubuh dan memberikan sugesti.
Namun, salah satu common fact yang menarik adalah: motivasi hanya kuat di awal saja.
Kalau motivasi dianalogikan di dunia nyata, mungkin motivasi itu adalah baterai. Saat baru dibeli, baterai itu terisi penuh dengan energi. Ketika energinya dipakai di berbagai macam perangkat, lama-lama total energinya akan berkurang, dan dalam keadaan tertentu akan habis dan tidak bisa dipakai.
Jika ingin baterai tetap bisa dipakai, maka secara berkala sebelum benar-benar habis, baterai itu harus di recharge. Energinya harus diisi agar kembali penuh. Dengan demikian, baterai tersebut bisa digunakan untuk perangkat lainnya lagi, menjalankan aktifitas yang ada.
Salah satu hal yang lumrah dari manusia adalah derajat kekuatan imannya yang fluktuatif. Seiring berjalannya waktu, kekuatan iman naik dan turun seiring dengan berkurangnya umur. Perilaku serupa juga nampak di derajat kekuatan cinta seseorang terhadap sesuatu, dan juga nampak di derajat kekuatan motivasi seseorang.
Menjaga motivasi merupakan hal yang harus selalu dilakukan untuk menjaga semangat yang ada untuk melaksanakan aktifitas setiap hari. Maka dari itu, tiap mengerjakan sesuatu dan kita mulai malas, barangkali salah satu pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan mengingat kembali tujuan awal.
Pertanyaan sederhana: "Untuk apa diri kita berjalan sejauh ini?"
Posisi yang kita dapatkan saat ini, merupakan akumulasi dari begitu banyak pengorbanan yang telah terjadi sebelumnya. Pengorbanan-pengorbanan itu tidak selalu dari diri kita sendiri. Ada banyak pengorbanan orang lain yang kemudian mengantarkan pada diri kita di posisi ini saat ini.
Paling tidak, untuk dapat berdiri tegak di posisi kita saat ini, ada pengorbanan orang-orang yang telah merawat kita sejak di dalam kandungan, hingga kemudian lahir, hingga kemudian bersekolah, dan hingga dewasa.. Ada perjuangan besar orang lain di dalam diri kita. Kita hidup dari perjuangan itu.
Lalu, akan kita tebus dengan apa pengorbanan-pengorbanan itu?
Pada intinya, everything running at cost. Segala sesuatu berjalan dengan suatu harga yang harus ditebus. Tidak mesti selalu uang. Paling tidak, waktu adalah harga yang harus selalu kita tebus. Kita tak selamanya hidup di dunia yang fana ini bukan? Suatu hari jatah waktu kita akan habis, dan jatah waktu itu bukan milik kita. Kita akan bertanggungjawab pada pemiliknya, pencipta alam semesta.
"... Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." (QS Ali-’Imran: 159)
Kadang-kadang aku terlalu percaya dengan logikaku sendiri. Ketika aku menemukan suatu kesimpulan atas sesuatu, aku akan sangat percaya dengan hasilnya. Tapi bukan tanpa sebab, karena aku sangat hati-hati dalam memilih dan memilah bukti. Apa yang aku dapatkan validitasnya sangat tinggi untuk standarku.
Maka, kadang-kadang ketika aku mendengar klarifikasi orang lain tentang suatu hal yang sudah aku analisis kesimpulannya, aku tidak mempercayai kata-kata mereka. Aku bisa tahu mana argumen yang merupakan penjelasan, atau mana argumen yang hanya alasan saja untuk menutupi sesuatu. Berdiplomasi denganku sulit, jadi langsung to the point sajalah. Aku tahu maksud mereka yang membutuhkan sesuatu, aku tahu maksud mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.
Mungkin tidak terlalu baik, karena pasti ada kalanya dugaanku salah. Tidak ada deduksi yang selalu benar. Terkadang ada fakta yang terlewatkan sedemikian sehingga semuanya luput. Kesimpulan yang didapatkan pun menjadi salah alurnya.
Namun tentunya tidak selalu. Tentu frekuensi benarnya cukup tinggi. Karena itu aku benci orang yang mencari alasan untuk menghindari kesalahannya atau untuk menutupi sesuatu. Akui sajalah kalau memang bersalah, karena kalau sudah melewati analisisku, aku takkan mudah percaya pada siapapun. Apalagi untuk golongan-golongan orang yang suka mem-plot hidup orang lain supaya sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Menjadikan aku target akan membuang tenaga kalian lebih banyak.
Ketus sekali ya?
Maka, kadang-kadang ketika aku mendengar klarifikasi orang lain tentang suatu hal yang sudah aku analisis kesimpulannya, aku tidak mempercayai kata-kata mereka. Aku bisa tahu mana argumen yang merupakan penjelasan, atau mana argumen yang hanya alasan saja untuk menutupi sesuatu. Berdiplomasi denganku sulit, jadi langsung to the point sajalah. Aku tahu maksud mereka yang membutuhkan sesuatu, aku tahu maksud mereka yang ingin mendapatkan sesuatu.
Mungkin tidak terlalu baik, karena pasti ada kalanya dugaanku salah. Tidak ada deduksi yang selalu benar. Terkadang ada fakta yang terlewatkan sedemikian sehingga semuanya luput. Kesimpulan yang didapatkan pun menjadi salah alurnya.
Namun tentunya tidak selalu. Tentu frekuensi benarnya cukup tinggi. Karena itu aku benci orang yang mencari alasan untuk menghindari kesalahannya atau untuk menutupi sesuatu. Akui sajalah kalau memang bersalah, karena kalau sudah melewati analisisku, aku takkan mudah percaya pada siapapun. Apalagi untuk golongan-golongan orang yang suka mem-plot hidup orang lain supaya sesuai dengan rencana yang telah mereka susun. Menjadikan aku target akan membuang tenaga kalian lebih banyak.
Ketus sekali ya?
Akhir-akhir ini sepertinya aku sedang disindir oleh Allah.. Dalam 2 minggu ini aku sering mendengar cerita-cerita, tetapi bukan cerita motivasi, melainkan cerita tentang kegagalan yang pada awalnya, semua kegagalan tersebut dimulai dari suatu rencana yang sangat baik dan tersusun rapi.
Ngomong-ngomong, tahun ini sudah hampir genap 3 tahun kuliahku. Tahun depan, insya Allah kuliah ini akan selesai. Rutinitas akan segera berganti, dan cemasnya sudah terasa sekali dari sekarang.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Kuliah berakhir, artinya belajar secara formal yang sudah beruntun aku lakukan sejak umur 6 tahun akan berganti, menjadi suatu bentuk rutinitas baru yang belum pernah aku rasakan. Terbayang sekali, akan ada banyak hal baru yang akan aku hadapi, dan akan sangat menegangkan sepertinya.
Karena itu, akhir-akhir ini aku sering membuat rencana untuk dijalankan sebagai langkah awal untuk membentuk masa depan. Sepertinya cukup rapi walaupun sulit. Rangkaiannya sepertinya simpel, kerja sambil siap-siap menyusun usaha, menikah, S2 dan setelah itu akan ada rencana selanjutnya.
Tapi, sepertinya ada yang salah..
Seperti yang aku ceritakan di awal tadi, entah kenapa aku jadi memikirkannya. Namun aku jadi mengerti, ada hal yang memang harus aku sadari. Hikmah tak ternilai yang harus aku pahami sebagai pengingat selama merencanakan dan melaksanakan semuanya.
Pertama, sebaik apapun yang seorang manusia rencanakan, pada akhirnya, Allah jua yang menentukan. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa bukan? Pada akhirnya semuanya adalah keputusanNya, yang merupakan hasil dari niatku, seberapa besar dan teguh perjuanganku, dan seperti apa aku memohon padaNya. Tidak hanya bisnis yang butuh strategi, doa pun butuh strategi. Tidak jarang aku mengalami hal yang sangat di luar bayanganku, padahal setelah aku telaah baik-baik, semua itu ternyata adalah hasil dari terkabulnya doaku sendiri. Allah tak pernah ingkar janji.
Kedua, sebaik apapun awal yang aku ciptakan, hal yang paling penting adalah akhirnya. Khusnul khatimah saat meninggal, sama seperti itu bukan? Tidak ada gunanya semua amal baik yang dikerjakan manusia jika ternyata hidupnya berakhir di tengah hiruk pikuk kemaksiatan. Namun, makna khusnul khatimah yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi "akhir yang baik" menyimpan makna sendiri untukku.
Selama ini, ketika aku diberikan olehNya berbagai macam ujian, selalu ada 3 fase, awal, proses memelihara, dan akhir. Hal ini terjadi di tiap kejadian yang Allah timpakan padaku. Saat awal, seorang manusia bisa saja diberikan rezeki dan keberuntungan yang sangat baik. Tapi, jarang banyak yang ingat bahwa rezeki dan keberuntungan itu barulah permulaannya saja. Memelihara pencapaian itu jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dan jika proses memelihara pencapaian itu gagal, maka saat itulah didapatkan akhir yang buruk alias su'ul khatimah. Tidak ada yang akan mengingat bahwa sang manusia tersebut berhasil pada awalnya. Setelah semuanya selesai, hanya hasil akhir saja yang menentukan, apakah seseorang tersebut berhasil atau tidak menjalankannya.
Hidup, dan kejadian di dalamnya adalah rentetan itu - awal, proses memelihara, dan akhir. Mudah-mudahan dengan mengingat ini semuanya bisa berjalan dan berakhir dengan baik.
Ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah biha, ya Allah bi-husnil khatimah.
Nggak tahu sebenarnya, tapi kepingin aja nge-posting gambar ini. :P
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Jadi tanggal 22 September lalu, Paramadina Choir mengadakan latihan perdana untuk anggota baru angkatan 8 yang masuk pada tahun 2012. Acaranya sebenarnya merupakan training singkat tentang teknik produksi suara dan teori musik. Kebetulan aku berkesempatan untuk menjelaskan tentang teori musik dasar. :)
![]() |
| Cover Presentasi |
Ada sesuatu yang susah diungkapkan di sini, karena tidak terasa bahwa ternyata aku sudah 2 tahun komplit berada di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ini. Ada banyak kenangan yang sudah berlalu selama berkecimpung di dalamnya.
Jadi ingat pas pertama-pertama masuk ke UKM ini. Aku pertamanya bukan penggemar musik sama sekali. Ya, senang mendengarkannya, tapi ya gak senang-senang amat. Stok lagu yang aku hafal juga sangat sedikit. Kalaupun aku pernah mendengarkan suatu lagu, paling hafal cuma pas reff-nya saja. :D
Tapi, mulai saat mengikuti Paramadina Choir ini, aku memandang musik sebagai sesuatu yang berbeda. Tidak hanya sekedar lantunan melodi, tetapi juga sebagai entitas sains yang harus dihitung, juga sebagai hobi peralihan ketika sedang mengalami hal-hal yang sulit.
Sebentar lagi mungkin aku sudah tidak bisa tetap fokus dengan prioritas tinggi di sini. Aku mau mengejar impianku. Namun walau begitu, tentu tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja. Ada banyak hal yang Paramadina Choir ajarkan padaku.
Walau sampai kapanpun, sepertinya aku akan tetap ingat melodi-melodi di dalamnya. :)
Kalau kamu adalah seorang mahasiswa yang merantau, cobalah ingat-ingat, kira-kira berapa hari lamanya kamu akan bertemu dengan keluargamu, dan berapa hari kamu akan menuntut ilmu di kampusmu yang jauh dari rumah itu selama satu tahun.
Untuk aku, rasionya sekitar 23:342. Aku menuntaskan rinduku pada keluargaku selama 6.73% dari jumlah hari dalam 1 tahun, dan itu berarti 93.27% waktuku dalam 1 tahun habis ketika berada di tanah rantauan.
Lalu, dengan apa akan kutebus rindu itu nanti?
Ah, yang aku tahu pasti hanya satu: hanya Engkaulah yang maha tahu, dzat yang maha perkasa. Inilah ikhtiar hamba..dan dari segala harapan yang sering hamba ucapkan, kabulkanlah permohonan hamba untuk tetap istiqamah.
Untuk aku, rasionya sekitar 23:342. Aku menuntaskan rinduku pada keluargaku selama 6.73% dari jumlah hari dalam 1 tahun, dan itu berarti 93.27% waktuku dalam 1 tahun habis ketika berada di tanah rantauan.
Lalu, dengan apa akan kutebus rindu itu nanti?
Ah, yang aku tahu pasti hanya satu: hanya Engkaulah yang maha tahu, dzat yang maha perkasa. Inilah ikhtiar hamba..dan dari segala harapan yang sering hamba ucapkan, kabulkanlah permohonan hamba untuk tetap istiqamah.
Walaupun sulit, akan kutempuh,
demi orang-orang yang aku cintai.
Hal ini sering terjadi padaku ketika pada suatu malam hari (biasanya sebelum tidur) terlintas suatu pikiran yang bersifat praduga dalam bentuk prasangka buruk yang tiba-tiba datang tanpa permisi lalu mengaktifkan seluruh saraf minat investigasi di dalam kepalaku. Kalau itu sudah terjadi, hh.. lupakan saja untuk tidur karena berguling-guling di kasur hanya akan membuat pikiran buruk itu semakin kuat.
Ketika sindrom prasangka ini menguat dengan derajat yang signifikan, maka dibanding stres di tempat tidur, aku biasanya akan bangun dan membuka laptop, kemudian mengetikkan semua poin-poin yang harus aku selidiki dan pikirkan.
Ngg, by the way, akhir-akhir ini sindrom ini sering menjangkiti diriku, dan topiknya selalu sama sejak setahun yang lalu.
Saat berguling-guling di tempat tidur tadi, aku menyadari bahwa saat itu pengaruh emosi sangat tinggi, sehingga otak kemudian meng-generate begitu banyak kalimat tegas menusuk yang rasanya ingin cepat-cepat dilontarkan ketika bertemu dengan orang yang menjadi muara awal timbulnya prasangka tersebut. Ternyata setelah diproses di laptop, perasaan-perasaan tersebut perlahan-lahan lenyap.
Kalau dipikir-pikir, grafik naiknya emosi saat sejak timbul prasangka sampai membuka laptop itu mirip dengan kurva emisi benda hitam pada berbagai suhu, seperti di bawah ini.
Lihat garis yang berwarna biru, persis seperti itu kenaikan emosinya. Dalam kasus aku ini, sumbu y merupakan derajat emosi dan sumbu x merupakan satuan waktu.
Yah, begitulah.
Hanya saja, saat membaca kembali, begitu banyak bukti-bukti dari prasangka tersebut yang terlanjur sudah terkumpul lewat berbagai media yang bisa diakses lewat internet. Jadi, terkadang aku malah jadi ragu dan bingung, apakah aku harus melanjutkan niatku untuk menguak kebenaran prasangkaku tadi atau tidak. Aku jadi agak khawatir dengan kesehatan mentalku sendiri. :(
Aku tidak ingin kehilangan kemampuan analisis atau minat investigasi yang aku miliki ini. Hanya saja aku berharap, waktu-waktu datangnya minat tersebut bisa lebih dikontrol.
Bisakah?
Huff.. Bismillah. Semoga saja.
Ketika sindrom prasangka ini menguat dengan derajat yang signifikan, maka dibanding stres di tempat tidur, aku biasanya akan bangun dan membuka laptop, kemudian mengetikkan semua poin-poin yang harus aku selidiki dan pikirkan.
Ngg, by the way, akhir-akhir ini sindrom ini sering menjangkiti diriku, dan topiknya selalu sama sejak setahun yang lalu.
Saat berguling-guling di tempat tidur tadi, aku menyadari bahwa saat itu pengaruh emosi sangat tinggi, sehingga otak kemudian meng-generate begitu banyak kalimat tegas menusuk yang rasanya ingin cepat-cepat dilontarkan ketika bertemu dengan orang yang menjadi muara awal timbulnya prasangka tersebut. Ternyata setelah diproses di laptop, perasaan-perasaan tersebut perlahan-lahan lenyap.
Kalau dipikir-pikir, grafik naiknya emosi saat sejak timbul prasangka sampai membuka laptop itu mirip dengan kurva emisi benda hitam pada berbagai suhu, seperti di bawah ini.
| Black body curves of Planck for various temperatures and comparison with classical theory of Rayleigh-Jeans. (http://en.wikipedia.org/wiki/File:Black_body.svg) |
Lihat garis yang berwarna biru, persis seperti itu kenaikan emosinya. Dalam kasus aku ini, sumbu y merupakan derajat emosi dan sumbu x merupakan satuan waktu.
Yah, begitulah.
Hanya saja, saat membaca kembali, begitu banyak bukti-bukti dari prasangka tersebut yang terlanjur sudah terkumpul lewat berbagai media yang bisa diakses lewat internet. Jadi, terkadang aku malah jadi ragu dan bingung, apakah aku harus melanjutkan niatku untuk menguak kebenaran prasangkaku tadi atau tidak. Aku jadi agak khawatir dengan kesehatan mentalku sendiri. :(
Aku tidak ingin kehilangan kemampuan analisis atau minat investigasi yang aku miliki ini. Hanya saja aku berharap, waktu-waktu datangnya minat tersebut bisa lebih dikontrol.
Bisakah?
Huff.. Bismillah. Semoga saja.
Posting ini bisa dikatakan.. random thought lagi. Yah, bagi yang mau baca silakan. :P
Hari ini adalah h-1 terakhir aku magang di kantor bersama teman-teman Paramadina di Rajawali Group. Entah kenapa suasana hari ini sedikit lebih cair dari biasanya. Nah, tiba-tiba terjadi percakapan berikut:
Tokoh dalam percakapan ini ada 3: Pak Hendry (supervisor ku di kantor) dan Bu Dian (atasannya Pak Hendry).
Pak Hendry: (karena suatu dan lain hal ada percakapan sebelumnya) "...nah ajak Imam aja itu makannya"
Bu Dian: "Lah, Imam pasti puasa ya gak mam? Gimana Hendry ini. Dari badannya aja, kelihatan walaupun gak puasa Imam pasti tiap harinya puasa."
Aku: -_-
Pak Hendry: "Iya, puasa anak kost"
Aku: Haha :D
Bu Dian: "Jangan-jangan ini Imam puasa biar dapet cewek ini. Gak dapet-dapet pula ya Mam ya?"
Aku: ... (dalam hati, "Emang kalau mau punya cewek harus puasa ya? Tirakat, atau nyantet gitu? -_-")
Lalu tiba-tiba Bu Dian bercerita bahwa dulu waktu beliau kost semasa kuliah, ibu kost-nya baik sekali, karena tiap pagi penghuni rumah kost-nya selalu dihidangkan makanan untuk sarapan pagi, dan makanannya banyak dan enak.
Setelah hiruk pikuk pekerjaan, lalu pulanglah aku dari kantor, jam setengah 6 lewat, telat buka sudah pasti, dan lupa bawa minum pula. -_-
Saat aku pulang, aku sempatkan mampir di warteg yang selalu aku lewati setiap berangkat pergi-pulang kantor. Aku langsung makan sekalian untuk berbuka di situ, sekitar jam 18 lewat belasan menit.
Tengah-tengah aku makan, tak sengaja aku mendengar sang anak pemilik warteg bercerita kepada ibunya, intinya bahwa dia kekurangan tidur, karena belajar terus. Sepertinya dia bersekolah di pesantren.
Lalu ibunya berkata, "Lah, prihatin lah nak, biar ilmunya masuk. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.."
Tiba-tiba ada sekilas keheningan di kepalaku.
Anak kecil itu masih membela dirinya sendiri dengan polos. Sang ibu lalu berkata, "Nanti, kalau kamu udah sukses, mau tidur seharian juga boleh. Sekarang susah-susah dulu, kan masih belajar."
Dalam benakku, "..."
Benar juga..
Aku sudah lupa, bahwa memang seharusnya seperti itu. Itulah kenapa anak-anak yang dididik untuk mandiri saat sekolah, akan jauh lebih sukses dan berarti hidupnya. Aku punya banyak contoh teman-teman yang seperti itu.
Tiba-tiba aku seperti tersindir..
Ya, hidupku terlalu nyaman.
Aku masih muda, masih sanggup untuk lelah-lelah dan mengantuk-ngantuk untuk berpikir dan bekerja. Seharusnya aku tidak terlalu memanjakan diriku.
Mandiri, bukan berarti menyiksa diri kok. Hanya saja, kadar usahanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sekedar buka internet dan tidur-tiduran setiap hari, tetapi lebih dari itu, bekerja dan berpikir untuk sesuatu yang menghasilkan pola pikir dan kebiasaan yang baik pula.
Teguran ya.. Maha suci Allah.. di manapun, ada saja pembelajaran dariNya.
--{o}--
Hari ini adalah h-1 terakhir aku magang di kantor bersama teman-teman Paramadina di Rajawali Group. Entah kenapa suasana hari ini sedikit lebih cair dari biasanya. Nah, tiba-tiba terjadi percakapan berikut:
Tokoh dalam percakapan ini ada 3: Pak Hendry (supervisor ku di kantor) dan Bu Dian (atasannya Pak Hendry).
Pak Hendry: (karena suatu dan lain hal ada percakapan sebelumnya) "...nah ajak Imam aja itu makannya"
Bu Dian: "Lah, Imam pasti puasa ya gak mam? Gimana Hendry ini. Dari badannya aja, kelihatan walaupun gak puasa Imam pasti tiap harinya puasa."
Aku: -_-
Pak Hendry: "Iya, puasa anak kost"
Aku: Haha :D
Bu Dian: "Jangan-jangan ini Imam puasa biar dapet cewek ini. Gak dapet-dapet pula ya Mam ya?"
Aku: ... (dalam hati, "Emang kalau mau punya cewek harus puasa ya? Tirakat, atau nyantet gitu? -_-")
Lalu tiba-tiba Bu Dian bercerita bahwa dulu waktu beliau kost semasa kuliah, ibu kost-nya baik sekali, karena tiap pagi penghuni rumah kost-nya selalu dihidangkan makanan untuk sarapan pagi, dan makanannya banyak dan enak.
Setelah hiruk pikuk pekerjaan, lalu pulanglah aku dari kantor, jam setengah 6 lewat, telat buka sudah pasti, dan lupa bawa minum pula. -_-
Saat aku pulang, aku sempatkan mampir di warteg yang selalu aku lewati setiap berangkat pergi-pulang kantor. Aku langsung makan sekalian untuk berbuka di situ, sekitar jam 18 lewat belasan menit.
Tengah-tengah aku makan, tak sengaja aku mendengar sang anak pemilik warteg bercerita kepada ibunya, intinya bahwa dia kekurangan tidur, karena belajar terus. Sepertinya dia bersekolah di pesantren.
Lalu ibunya berkata, "Lah, prihatin lah nak, biar ilmunya masuk. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.."
Tiba-tiba ada sekilas keheningan di kepalaku.
Anak kecil itu masih membela dirinya sendiri dengan polos. Sang ibu lalu berkata, "Nanti, kalau kamu udah sukses, mau tidur seharian juga boleh. Sekarang susah-susah dulu, kan masih belajar."
Dalam benakku, "..."
Benar juga..
Aku sudah lupa, bahwa memang seharusnya seperti itu. Itulah kenapa anak-anak yang dididik untuk mandiri saat sekolah, akan jauh lebih sukses dan berarti hidupnya. Aku punya banyak contoh teman-teman yang seperti itu.
Tiba-tiba aku seperti tersindir..
Ya, hidupku terlalu nyaman.
Aku masih muda, masih sanggup untuk lelah-lelah dan mengantuk-ngantuk untuk berpikir dan bekerja. Seharusnya aku tidak terlalu memanjakan diriku.
Mandiri, bukan berarti menyiksa diri kok. Hanya saja, kadar usahanya harus dimaksimalkan. Bukan hanya sekedar buka internet dan tidur-tiduran setiap hari, tetapi lebih dari itu, bekerja dan berpikir untuk sesuatu yang menghasilkan pola pikir dan kebiasaan yang baik pula.
Teguran ya.. Maha suci Allah.. di manapun, ada saja pembelajaran dariNya.
Haha, lagi-lagi gara-gara baca blog-nya Isti. :P Jadi ingat beberapa hal, sisa-sisa brainstorming zaman dulu.
Jadi begini kasusnya. Diketahui, seseorang dengan tingkat idealisme yang tinggi membaur di antara orang-orang dengan idealisme rendah. Apa yang terjadi?
Jika manusia disamakan dengan sistem kalor, maka otomatis (dengan mengibaratkan standar kualitas kerja dan idealisme sebagai panas), maka akan berlaku hukum termodinamika ke-0 yang berbunyi:
Terjemahan: Jika dua sistem berada dalam keseimbangan termal dengan sistem ketiga, maka ketiga sistem tersebut satu sama lain berada dalam keseimbangan termal.
Bahasa gampangnya, kalau ada dua sistem yang sama-sama panas dengan sistem ketiga, maka tiga-tiganya sama panasnya. :D
Jadi bagaimana itu intinya? :P
Well, aku menganggap bahwa idealisme dan standar kualitas kerja itu semacam kalor atau panas, yang akan merambat ke lingkungan di sekitarnya. Jika seseorang memiliki tingkat idealisme dan kualitas kerja yang bagus berbaur dengan orang yang tingkat idealisme dan kualitas kerjanya lebih rendah, pasti orang itu akan terpancing, yang semula 'dingin' menjadi 'hangat' karena terpengaruh oleh orang itu. :)
Ibarat besi panas dicelupin ke air, otomatis bakal nyess bukan? Karena saat itu panas besinya akan bersesuaian dengan panas airnya.
Nah, kalau kembali ke kasus asli, manusia menurut aku analog dengan sistem termodinamika ini.
"Jadi dengan kata lain, maksud Anda, orang yang idealis tersebut jika berbaur akan turun nilai idealismenya?"
No, belum tentu.
Orang yang idealis, yang kualitas kerjanya bagus, adalah sebuah 'mesin pemanas'. Seharusnya, orang tersebut akan tetap dalam suhu yang stabil, 'panas' dan 'memanaskan' yang ada di sekitarnya.
Jadi, berbaur tidak akan menurunkan kualitas diri seseorang. Turun atau tidaknya kualitas seseorang, tergantung pada orang itu sendiri, bagaimana cara dia menjaga 'panas'-nya agar tetap stabil.
Jadi, ayo, mari tetap 'panas'! :)
Jadi begini kasusnya. Diketahui, seseorang dengan tingkat idealisme yang tinggi membaur di antara orang-orang dengan idealisme rendah. Apa yang terjadi?
Jika manusia disamakan dengan sistem kalor, maka otomatis (dengan mengibaratkan standar kualitas kerja dan idealisme sebagai panas), maka akan berlaku hukum termodinamika ke-0 yang berbunyi:
"If two systems are in thermal equilibrium with a third system, then they are in thermal equilibrium with each other"
Terjemahan: Jika dua sistem berada dalam keseimbangan termal dengan sistem ketiga, maka ketiga sistem tersebut satu sama lain berada dalam keseimbangan termal.
Bahasa gampangnya, kalau ada dua sistem yang sama-sama panas dengan sistem ketiga, maka tiga-tiganya sama panasnya. :D
![]() |
| Diagram mesin Carnot untuk representasi hukum termodinamika. |
Jadi bagaimana itu intinya? :P
Well, aku menganggap bahwa idealisme dan standar kualitas kerja itu semacam kalor atau panas, yang akan merambat ke lingkungan di sekitarnya. Jika seseorang memiliki tingkat idealisme dan kualitas kerja yang bagus berbaur dengan orang yang tingkat idealisme dan kualitas kerjanya lebih rendah, pasti orang itu akan terpancing, yang semula 'dingin' menjadi 'hangat' karena terpengaruh oleh orang itu. :)
Ibarat besi panas dicelupin ke air, otomatis bakal nyess bukan? Karena saat itu panas besinya akan bersesuaian dengan panas airnya.
Nah, kalau kembali ke kasus asli, manusia menurut aku analog dengan sistem termodinamika ini.
"Jadi dengan kata lain, maksud Anda, orang yang idealis tersebut jika berbaur akan turun nilai idealismenya?"
No, belum tentu.
Orang yang idealis, yang kualitas kerjanya bagus, adalah sebuah 'mesin pemanas'. Seharusnya, orang tersebut akan tetap dalam suhu yang stabil, 'panas' dan 'memanaskan' yang ada di sekitarnya.
Jadi, berbaur tidak akan menurunkan kualitas diri seseorang. Turun atau tidaknya kualitas seseorang, tergantung pada orang itu sendiri, bagaimana cara dia menjaga 'panas'-nya agar tetap stabil.
Jadi, ayo, mari tetap 'panas'! :)
Malam ini, tiba-tiba aku terpikir banyak sekali hal yang sudah banyak berlalu di dalam hidup aku. Siapa sangka, tahun ini bakal transisi umur, dari 1x ke 2x (dari angka berawalan 1 ke angka berawalan 2).
Cepat sekali ya? -_-
Perasaan baru kemarin masuk TK, bermain helikopter dan tamiya, terus agak gedean dikit, buka-buka Buku Fisika, main gitar, dan tahu-tahu sekarang sepertinya sudah di mana saja.. Masya Allah..
Ada banyak sekali, transisi sifat dan sikap, transisi prinsip, dan sampai juga ke transisi cita-cita. Ada banyak yang kebetulan lewat, datang dan lalu pergi. Ada banyak hal yang terjadi, dan berganti-ganti. Senang, sedih, senang, sedih, ya seperti grafik sinus atau cosinus lah, kadang di 0, kadang di 1, kadang di -1.
Hmm.. apa ini termasuk dalam kategori mengenang masa lalu ya?
Iya, aku rasa begitu. Walaupun kesannya seperti mengenang masa-masa lampau, tapi tentu ada manfaatnya juga, walaupun tidak boleh terus-terusan menghadap ke belakang, karena nanti bisa menabrak apa yang ada di depan. Dua-duanya harus seimbang, memori, dan evaluasi.
Tapi kalau dipikir-pikir iya juga. Aku akhir-akhir ini sering sekali mengenang kembali apa yang sudah terjadi. Frekuensinya jadi sering, entah kenapa.
Seperti ada yang disesali sebenarnya, tapi tentu banyak pula yang disyukuri. Kenapa ini ya?
Wallahu a'lam. Seperti ditegur, semoga ada manfaatnya. :)
Cepat sekali ya? -_-
Perasaan baru kemarin masuk TK, bermain helikopter dan tamiya, terus agak gedean dikit, buka-buka Buku Fisika, main gitar, dan tahu-tahu sekarang sepertinya sudah di mana saja.. Masya Allah..
Ada banyak sekali, transisi sifat dan sikap, transisi prinsip, dan sampai juga ke transisi cita-cita. Ada banyak yang kebetulan lewat, datang dan lalu pergi. Ada banyak hal yang terjadi, dan berganti-ganti. Senang, sedih, senang, sedih, ya seperti grafik sinus atau cosinus lah, kadang di 0, kadang di 1, kadang di -1.
Hmm.. apa ini termasuk dalam kategori mengenang masa lalu ya?
Iya, aku rasa begitu. Walaupun kesannya seperti mengenang masa-masa lampau, tapi tentu ada manfaatnya juga, walaupun tidak boleh terus-terusan menghadap ke belakang, karena nanti bisa menabrak apa yang ada di depan. Dua-duanya harus seimbang, memori, dan evaluasi.
Tapi kalau dipikir-pikir iya juga. Aku akhir-akhir ini sering sekali mengenang kembali apa yang sudah terjadi. Frekuensinya jadi sering, entah kenapa.
Seperti ada yang disesali sebenarnya, tapi tentu banyak pula yang disyukuri. Kenapa ini ya?
Wallahu a'lam. Seperti ditegur, semoga ada manfaatnya. :)
Aku merasa dekat sekali jarak itu..
Jarak itu.. yang kupandang dengan mataku..
Aku melangkah ke ujung, ujung jarak itu..
Aku lihat sekelilingnya begitu berdebu,
ada asap kelabu, mengelilingi jalan itu,
sedang sebenarnya aku tak tahu, ke mana aku harus menuju.
Semua sudah kukira-kira.. tapi aku tak tahu waktu kan berkata apa.
Aku bisa mati sebelum di sana,
atau aku jatuh, tersungkur, dan diam tak punya tenaga.
Yang aku tahu, aku masih berjalan ke sana.
Tak dipercepat, tak pula diperlambat..
Hak pada diriku hanya haluan, dan sisanya adalah tindakan.
Maka saat aku tiba di ujung itu, aku tak ingin menyesal dan menoleh lalu,
maka dari itu, ya Rabb.. bimbinglah aku.
Jarak itu.. yang kupandang dengan mataku..
Aku melangkah ke ujung, ujung jarak itu..
Aku lihat sekelilingnya begitu berdebu,
ada asap kelabu, mengelilingi jalan itu,
sedang sebenarnya aku tak tahu, ke mana aku harus menuju.
Semua sudah kukira-kira.. tapi aku tak tahu waktu kan berkata apa.
Aku bisa mati sebelum di sana,
atau aku jatuh, tersungkur, dan diam tak punya tenaga.
Yang aku tahu, aku masih berjalan ke sana.
Tak dipercepat, tak pula diperlambat..
Hak pada diriku hanya haluan, dan sisanya adalah tindakan.
Maka saat aku tiba di ujung itu, aku tak ingin menyesal dan menoleh lalu,
maka dari itu, ya Rabb.. bimbinglah aku.
Salah satu hal yang aku percaya di dunia ini adalah tentang qisos atau karma. Ada balasan atas apa yang diperbuat seseorang kepada orang lain. Jangankan itu, ada sesuatu yang akan terjadi ketika kita melakukan sesuatu yang buruk pada sesuatu, sekalipun itu benda mati. Paling tidak Hukum Newton III.
Mungkin, ada yang tidak percaya, tapi coba perhatikan. Kemudian simpulkan.
Lihat lebih dekat, dan kau akan mengerti.
Actioni contrariam semper et æqualem esse reactionem: sive corporum duorum actiones in se mutuo semper esse æquales et in partes contrarias dirigi.Terjemahan:
To every action there is always an equal and opposite reaction: or the forces of two bodies on each other are always equal and are directed in opposite directions.Adanya aksi reaksi, itu adalah perilaku untuk sistem semesta ini. Bahkan nilai balasannya itu setimpal, sama, dan presisi. Ada suatu sistem komputasi rahasia di belakang setiap perbuatan kita, yang mencatat dengan sangat teliti. Setiap konsekuensi yang akan kita terima pun akan adil, dan nanti pasti akan kita terima.
Mungkin, ada yang tidak percaya, tapi coba perhatikan. Kemudian simpulkan.
Lihat lebih dekat, dan kau akan mengerti.
Subscribe to:
Posts (Atom)




- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact